Akibat Pandemi, Penjualan Peti Mati Jadi Tinggi

Salah satu penjual peti mati di solo

KBRN, Surakarta : Sejak terjadi pandemi Covid-19, dengan banyaknya korban meninggal dunia pemesanan peti mati di Kota Solo mengalami kenaikan mencapai 50 persen. Meski mengalami peningkatan permintaan, para penjual tidak menaikkan harga, mengingat berkaitan dengan kemanusian. Hanya saja khusus pembeli dari Tim kerohanian Rumah Sakit, penjual baru berani mengambil keuntungan yang lebih banyak. 

Salah seorang pembuat dan penjual peti mati di daerah Gading, Sutarto ( 65 ) mengaku setiap hari sekarang pemesanan mencapai lebih dari 10 peti termasuk pengiriman keluar kota. Padahal sebelum terjadi pandemi hanya 3 hingga 5 peti. Tingginya pemesanan cukup membuat prihatin meski omzet yang diterima mengalami kenaikan.

“ Nggih kula pokoke bakule, yen bakule mendete katah nggih cepet. Bakule niku di beto teng Wonogiri. Bulu kerto sepuluh. Nek soal regi wah mboten saget wong ngoten niku nyawa og ( Soal penjualan tergantung pembelian dari pedagang. Kalau belinya banyak ya cepat habisnya.  Kaya tadi ada yang ambil dari Bulukerto Wonogoro sepuluh peti. tapj saya gak berani menaikkan harga karena ini masalah kemanusiaan) " ungkap Sutarto kepada RRI, Jumat (18/9/2020 ).

Kondisi yang juga dialami penjual peti mati di daerah nusukan Budi ( 53), meski tidak terlalu signifikan, dalam sehari hanya berkisar satu hingga 2 peti.

'Biasanya yang datang dari pihak rumah sakit bidang kerohanian yang mengurusi jenasah. mereka datang ke toko dan langsung membawa ke RS. Biasane mereka datang ke toko langganan yang sudah kenal, " kata Budi. 

Harga peti mati untuk kwalitas standart berkisar 500 hingga 600 ribu sedangkan untuk ukir dipatok 4 hingga 5 juta rupiah. (Wiwid)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00