Langgar Estetika, LDA Tentang Pendirian Baliho di Alkid Keraton Surakarta

Caption Foto, GKR Koes Moertiyah Wandansari (kanan) saat memberikan keterangan pers dihadapan media.
Caption Foto nampak dua tiang besi yang akan digunakan untuk memasang baliho di depan Bangunan BCB Sitihinggil Kompleks Keraton Surakarta.

KBRN, Surakarta: Pendirian tiang baliho di depan bangunan Siti Hinggil Selatan (Alkid) Keraton Surakarta, menyalahi estetika. Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta pendirian baliho tersebut karena melanggar undang undang Cagar Budaya.

Untuk diketahui, baliho besar akan dipasang permanen di depan Siti Hinggil Alun-Alun Selatan Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Pemasangan baliho dimulai pekan lalu dengan pemasangan tiang baliho berupa pipa besi. 

Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari pendirian baliho tersebut. Sesuai Undang-undang No. 11/2010 tentang Cagar Budaya, setiap orang dilarang menambah bangunan permanen di kawasan cagar budaya.

“Baliho itu akan menutupi bangunan utama, Siti Hinggil. Lalu dibangunnya juga mepet pagar Siti Hinggil. Ini membahayakan kalau-kalau terkena angin dan roboh, bisa menimpa masyarakat, bahkan pagar Siti Hinggil sendiri,” kata dia Rabu (16/9/2020).

Gusti Moeng menentang siapapun yang memasang baliho permanen di kawasan tersebut. Kendatipun  pemasangan baliho mengatasnamakan Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII. Menurutnya tindakan itu di luar pakem keraton, bahkan cenderung melawan hukum .

"Ini kan tindakan di luar pakem, bahkan cenderung melawan hukum. Kalau mengatasnamakan sinuhun, kakak saya, maka Sinuhun yang akan kena akibatnya. Padahal, bisa jadi ini adalah ulah oknum di belakangnya,” tandasnya.

Gusti Moeng mengatakan bahwa rencana pemasangan baliho di kawasan BCB sudah mendapatkan petunjuk arah dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah. Namun ia menyebut ada oknum yang datang ke Sinuhun PB XIII sampai mengahdirkan ke Alun alun selatan untuk pemasangan baliho tersebut. 

Bahkan sempat video yang berada di dalam mobil Gusti Moeng mencoba berbicara dengan PB XIII yang berada di dalam mobil. Di video tersebut, Gusti Moeng bersama cucu PB XIII tampak menjelaskan alasan mengapa ia pendirian baliho permanen di Siti Hinggil Alkid. 

"Hari Jumat itu kan sinuhun ke Alkid ya ada oknum yang masuk ke sana. Dan saya malah bisa seneng bisa ketemu. Karena selama ini kebijakannya salah dan dimanfaatkan. Itu Kaka saya yang jadikan ratu saya," ucapnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00