Cerita Pasutri 3 Kali Tertunda Berangkat Ke Tanah Suci, Ini Hikmahnya

Heru Purnomo (60) kanan, dan Endang Sri Suprapti (65) saat berpose di bawah lukisan Ka

KBRN, Surakarta: Pemerintah Arab Saudi tetap menyelenggarakan ibadah haji 1441H. Namun, jemaah haji dari negara lain termasuk Indonesia tidak dapat mengikuti ibadah rukun ke Islam yang ke lima ini, karena Pandemi Covid-19. 

Penundaan ibadah haji tahun ini memang menyebabkan kekecewaan ratusan ribu jemaah Indonesia. Termasuk pasangan suami istri (Pasutri) dari Solo Heru Purnomo (60) dan Endang Sri Suprapti (65). 

Keduanya mengalami penundaan pemberangkatan haji ke tanah suci sampai tiga kali semenjak mendaftar 2011 silam. Seperti apa cerita warga Kampung Cangakan RT 1/10 Nusukan, Banjarsari, sampai mengalami penundaan haji beberapa kali?

Saat RRI berkunjung ke kediamannya akhir pekan lalu, Ny. Endang mengaku ingin berangkat haji sejak 2005. Berawal dari temannya bekerja di BBRSBD Surakarta yang berangkat haji. Namun ibu tiga putra ini hanya memendam hasrat tersebut, karena merasa tak mungkin terwujud.

"Saking kepinginnya saya takut mengutarakan dengan tetangga atau saudara bahkan suami. Ah saya tak beli lukisan (Ka'bah) saja. Jadi keinginan itu jauh sebelum pensiun (2011), cuma takut bilang, apa mungkin? ucap Endang sembari menunjukkan lukisan Masjidil Haram yang menempel di dinding ruang tamunya.

Hasrat Endang ingin berangkat haji semakin bulat saat mengambil uang pensiun. Sepulang dari bank dia memberanikan diri mengutarakan pada suaminya Heru Purnomo (Pensiun RRI Surakarta). 

"Kemudian saya beranikan diri bilang pada suami untuk ke Mekah. Sebetulnya suami ya berat, ibu saja yang berangkat," ucap Endang menirukan kata suaminya.

Endang mengaku, sekitar akhir Desember 2011 sepakat mendaftar haji melalui Bank Mandiri Syariah. Dari pihak Kementerian Agama (Kemenag) Surakarta menyampaikan akan berangkat ke tanah suci 7 tahun lagi atau sekitar 2018.

"Lha 2018 itu harusnya berangkat, tapi ada pengurangan kuota karena Mekah dibangun itu dan ditunda, mundur setahun," ujarnya.

Rasa Endang ingin pergi ke Baitullah tak terbendung lagi. Selang penundaan haji 2018 dia memberanikan diri untuk pergi Umroh. "Kemudian saya umrah dulu. Ngajak bapak tidak bisa karena merawat cucu yang ditinggal ibunya meninggal," tandasnya.  Awal tahun 2019 itu ada daftar pemberangkatan haji dari Kemenag Surakarta masuk urutan paling bawah. Akhirnya mempersiapkan diri untuk mengikuti manasik haji. Namun setelah memasuki waktu pemberangkatan, Kemenag menginfokan lagi tidak masuk daftar. Dirinya akan diberangkatkan pada 2020. Namun lagi lagi ia gagal berangkat karena ada wabah Covid-19.

"Ya mundur lagi nggak papa saya tidak mengeluh, dipanggilnya kapan saya manut. Tahun ini juga sudah manasik sudah siap ternyata ada Corona nggak papa," ucap Endang.

Penundaan haji tahun ini lanjut Endang lebih baik, karena situasi masih dalam wabah virus korona. Kendatipun dirinya sudah mempersiapkan acara pamitan haji. 

"Sudah ada rencana pamitan sudah pesan souvernir, ketering juga. Untung ndak mau diberi uang muka. Anak-anak sudah mendukung, sudah pesen-pesen persiapan," ujarnya. 

Kekecewaan penundaan ibadah haji ini lebih dirasakan Heru. Kendatipun awalnya tidak ada niatan untuk pergi haji. Bahkan Heru lebih ingin segera berangkat ke Mekkah untuk berhaji. Tapi Heru yakin ibadah haji memang benar-benar panggilan Allah SWT.

"Sebetulnya saya ndak ada keinginan, karena ibu yang menginginkan. Tapi lama kelamaan terus dipelajari kok semangat. Besok kapan ya berangkat itu, malah saya yang kecewa," kata Heru mendampingi istrinya.

Tekad Heru berangkat haji sudah bulat. Sampai-sampai saat diminta mengambil uang pelunasan haji tahun ini tidak dilakukan. Segala sesuatu telah disiapkan, termasuk baju ihram  

"Sampai kemarin pelunasan diminta diambil saya gak mau. Ini tinggal berangkat sebetulnya. Batal berangkat itu saya ndak memikirkan apapun, itu cuma yang terbaik saja. Malah kalau sekarang tidak fokus karena harus jaga jarak satu dengan yang lain," ungkap dia.

Sembari menunggu pemberangkatan haji tahun depan, Heru dan Endang harus menjaga kesehatan. Ia yakin dengan penundaan ini mempengaruhi psikologis yang mengakibatkan kesehatan calon jemaah haji jatuh.

"Sekarang ini saya melaksanakan olahraga jalan kaki dan senam itu rutin dilakukan. Berdoa dan pola makan memang saling mengingatkan, karena kita sudah umur," pungkas Heru. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00