FOKUS: #PPKM

Angka Kemiskinan Sragen 13,83%, Melebihi Provinsi Jateng

KBRN,Sragen: Angka kemiskinan di Kabupaten Sragen Jawa Tengah masih  diangka 13,83%. Jumlah tersebut di atas angka kemiskinan Provinsi Jawa Tengah yaitu 11,46%.

Pemkab Sragen terus menggerakkan berbagai upaya untuk menekan kemiskinan. Salah satu program yang dirintis adalah pencanangan Desa Tumis (Tuntas Kemiskinan) Gotong Royong. 

Inovasi pengentasan kemiskinan ini digulirkan fokus menyasar desa sebagai upaya pengentasan kemiskinan terintergrasi. Sebagaimana dikatakan Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Jumat (24/6/2022).

Bupati mengatakan, program Desa Tumis digelar dengan menggerakkan secara bersama-sama stake holder dan instansi vertikal.

Melalui sebuah assesment dari awal sehingga terindentifikasi secara menyeluruh kebutuhan dari masing-masing masyarakat yang ada di desa tersebut. Program itu diperkenalkan di hadapan Kepala OPD Kabupaten Sragen, PMI Sragen, Baznaz dan FUD (Forum Usaha Daerah).

“Karena ini adalah terapi Gotong Royong satu desa, kami mengambil Pilot Project untuk Terapi Desa Jabung Kecamatan Plupuh. Kami kumpulkan teman-teman stake holder untuk Bantuan RTLH sebanyak 57 rumah dari Baznas Sragen dan LAZ, Bantuan Jambanisasi sebanyak 48 jamban dari PMI Sragen, Bantuan Listrik sejumlah 12 sambungan dari PLN, Bantuan Matra untuk 38 keluarga, dan Bantuan Pendidikan untuk 6 siswa dari GNOTA,” papar Bupati.

Sesuai hasil hasil assesment tahun 2022 pihaknya akan membuat replikasi ke 2 desa yaitu Desa Kadipiro Kecamatan Sambirejo dan Desa Cemeng Kecamatan Sambungmacan.

Assesment telah dilaksanakan di 20 desa di semua kecamatan dan rencana di tahun 2023 akan difokuskan di 31 desa. 

Bupati meminta seluruh pihak untuk melaksanakan assesment sesegera mungkin untuk rencana replikasi kepada 2 desa tersebut.

"Awal bulan depan (Juli) segala persiapan untuk dilakukan pra assesment. Mulai dari kepala desa sampai dengan perangkat hingga ketingkat RT untuk melakukan persiapan," pinta Bupati.

Diharapkan dari 3 desa yang sudah dilakukan sebagai Pilot Project itu akan dinyatakan sebagai tuntas desa.

Menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sragen, Finuril Hidayati, awal mula latar belakang dari program Desa Tumis adalah 51 desa yang masuk zona merah kemiskinan ekstrim menurut data dari Provinsi Jawa Tengah.

Sehingga pihaknya melakukan assesment ulang melalui data yang sudah ada yaitu data DTKS Kementerian Sosial.

Hasil assesment ulang yang digunakan adalah indikator kemiskinan sesuai UU No.13, verifikasi rumah tangga miskin, Perbup dan poin-poin sensus BPS.

“Dari hasil assesment ulang, kita akan mengetahui rumah tangga yang di assesment akan muncul kebutuhannya apa. Apakah RTLH, Pendidikan atau pun Kesehatan. Hal tersebut akan menjadi database kita. Untuk saat ini ada pendampingan dari OPD terkait walaupun digotong royongkan dari berbagai pihak. Sebagai contoh RTLH anggaranya dapat bantuan dari Baznas dan LAZ tetapi untuk pendampingannya dari Diperkimtaru (sesuai pedoman dari masing-masing instansi dinas tersebut,” jelasnya. MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar