Sudah 7 Kecamatan di Sukoharjo Miliki Gedung Sanggar Inklusi Mandiri

 

KBRN Sukoharjo : Pemkab Sukoharjo berkomitmen untuk meningkatkan layanan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Salah satunya adalah dengan membangun gedung mandiri untuk sanggar inklusi di setiap kecamatan.

Dari 12 kecamatan yang ada, sudah tujuh kecamatan yang memiliki gedung sanggar inklusi mandiri.

“Saat ini sudah ada tujuh kecamatan yang memiliki gedung sanggar inklusi secara mandiri. Untuk lima sisanya masih dalam proses,” jelas Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo, Suparmin, saat peresmian sanggar inklusi di Kecamatan Weru dan Bulu, Selasa (17/5/2022).

Dikatakan Suparmin, dari lima kecamatan yang belum memiliki gedung sanggar inklusi, untuk Kecamatan Baki dalam proses pembangunan. Sedangkan Kecamatan Mojolaban dan Tawangsari sudah mendapatkan alokasi anggaran dan Kecamatan Kartasura dan Sukoharjo masih dalam tahap proposal karena sempat terkendala lokasi pembangunan.

“Tujuh kecamatan yang sudah memiliki gedung sanggar inklusi mandiri masing-masing Nguter, Bendosari, Polokarto, Gatak, Grogol, Weru, dan Kecamatan Bulu,” ujarnya.

Dikatakan Suparmin, nilai bantuan dari Bupati Sukoharjo untuk pembangunan gedung sanggar inkluasi bervariasi, namun nilai bantuan rata-rata Rp250 juta. Suparmin juga mengatakan, total bantuan untuk 10 sanggar mencapai Rp2,45 miliar.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, saat peresmian Sanggar Inklusi Anak Bangsa di Kecamatan Weru dan Sanggar Inklusi Tunas Harapan di Kecamatan Bulu menyampaikan agar gedung sanggar tersebut dimanfaatkan dengan baik. Dimanfaatkan untuk memberikan pelayanan pada ABK yang membutuhkan perhatian luar biasa.

“ABK butuh perhatian yang luar biasa karena keterbatasannya dalam hal apapun,” ujar Etik.

Etik juga mengimbau kepada orang tua yang memiliki ABK untuk tidak berkecil hati dan malu ABK adalah titipan Tuhan sehingga harus dirawat dengan baik. Dikatakan Etik, keberadaan sanggar sangat mendukung kebutuhan ABK dalam melakukan kegiatan terkait tumbuh kembang anak.

“Sanggar ini saya harap dimanfaatkan dengan baik untuk kesehatan terapis, pendidikan yang sesuai untuk ABK, dan lainnya,” pesan Etik.

Bupati juga mengatakan, keberadaan sanggar inklusi memang tidak bisa membuat ABK sembuh 100%, namun setidaknya anak mampu mengeksprikan diri sehingga tahu apa yang dibutuhkan. Pasalnya, ABK juga butuh bersosialisasi seperti anak yang lain.

“Sekali lagi, pesan saya jangan malu punya ABK. Jangan hanya dirumah saja karena ABK juga punya hak seperti anak yang lain untuk bermain, belajar, dan lainnya,” ujarnya. (Edwi)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar