Pasang Jebakan Tikus Listrik Diancam Pidana, Polres Sragen Dorong Budi Daya Burung Hantu

Foto Ilustrasi

KBRN, Sragen: Polres Sragen dengan tegas melarang penggunaan listrik untuk menghalau hama tikus di area persawahan. Sebagai gantinya jajaran kepolisian mendorong budi daya burung hantu (Serak Jawa) sebagai musuh alami tikus.

Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi mengapresiasi dan mendukung pemanfaatan burung hantu karena lebih aman dari pada jebakan listrik. Bahkan Kapolres turut hadir memasang satu pagupon (rumah burung hantu) di lokasi areal Dukuh Tegalrejo, lalu.

Dikonfirmasi Wartawan Kapolres kembali mengimbau masyarakat untuk menjaga ekosistem serta tidak melakukan perburuan atau mengganggu predator alami tikus, antara lain biawak dan ular liar.

Kapolres juga memberikan sosialisasi kepada petani terkait bahaya pemasangan setrum jebakan tikus yang sudah merenggut puluhan nyawa di Sragen.

"Pemasangan setrum jebakan tikus bisa berimplikasi pidana. Bagi petani yang masih nekat memasang jebakan tikus listrik bakal dijerat pidana UU Ketenagalistrikan," terangnya Minggu (16/1/2022).

Mengacu UU tersebut, ancaman pidana bagi pemasang setrum jebakan tikus yang mengakibatkan korban jiwa bisa terancam pidana 5 tahun dan denda Rp 500 juta.

“Jadi bukan hanya pidana ya dan juga denda sampai Rp 500 juta karena melanggar UU Ketenagalistrikan. Aparat kepolisian sebenarnya tidak perlu menunggu jatuh korban sudah bisa menindak pelaku pemasang jebakan listrik,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Lutfhi menegaskan penggunaan setrum untuk jebakan tikus adalah ilegal alias melanggar aturan.

Karenanya, apabila perangkap tikus beraliran listrik itu sampai menimbulkan korban jiwa orang lain, akan diproses hukum.

“Cara-cara membasmi tikus seperti menggunakan jebakan listrik adalah ilegal. Polda Jateng dan jajaran akan menindak tegas pemilik atau pemasang jebakan tikus yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia,” tandas Kapolda melalui rilis yang diterima media, Senin (10/1/2022). MI

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar