FOKUS: #TANGGAP BENCANA

Desa di Sragen Kembangkan Predator Tikus, Petani Nyaman Tak Mengenal Jebakan Listrik

Foto Ilustrasi dok Istimewa.

KBRN, Sragen: Petani di Desa Bedoro Kecamatan Sambungmacan, Sragen saat ini lebih merasakan aman dari serangan hama tikus. Petani di wilayah Sragen Timur ini bahkan nyaris tidak ada yang mengenal  jebakan tikus listrik.

Meski memiliki lahan luas, hama tikus di desa tersebut relatif bisa dikendalikan.  Semua itu ternyata tak lepas dari terobosan yang dilakukan Pemdes setempat. Yakni dengan memberdayakan burung hantu (tyto alba) di areal persawahan.

Kades Bedoro, Pri Hartono menyampaikan, sejak dirintis tahun lalu, hingga kini sudah ada 17 rumah burung hantu (pagupon) yang dibuat di desa tersebut. Pemdes ikut andil dalam pengendalian hama tikus dengan mengalokasikan dana untuk pemeliharaan burung hantu tyto alba.

“Kita rintis sejak tahun lalu. Di tahun pertama kemarin 7 pagupon (rumah burung di sawah). Tahun ini kita tambah 10 pagupon. Untuk tahun ini anggarannya pakai dana desa totalnya Rp 22 juta. Rp 15 juta untuk pengadaan pagupon Rp 7 juta untuk burung hantunya,” kata Pri Hartono, Sabtu (15/1/2022).

Pada tahun lalu, Pemdes hanya mengalokasikan pembuatan pagupon saja sedang burungnya terisi sendiri dari burung hantu liar. Namun burung liar tidak efektif karena berpindah pindah.

“Kalau burung liar kadang ada kadang pergi. Nggak bisa menetap. Makanya tahun ini kita alokasikan untuk pengadaan burungnya juga. Ada 10 pasang,” terangnya Pri Hartono.

Terobosan pemberdayaan burung hantu itu digencarkan karena cukup efektif menekan sekaligus mencegah populasi hama tikus.

Meski hanya memiliki kemampuan memangsa 6 ekor tikus dalam semalam, faktanya semenjak areal dipasangi pagupon dan burung hantu, serangan tikus relatif bisa terkendali.

“Alhamdulilah, Desa Bedoro ini bukan termasuk wilayah pandemi tikus. Makanya di sini nggak ada yang pasang jebakan pakai setrum. Tapi hama tikus juga relatif aman sejak kita berdayakan burung hantu. 

Salah satu warga, Sunarto (68) petani asal Dukuh Tegalrejo RT 33/8, menuturkan selama ini hama tikus di wilayahnya bisa terkendali sejak adanya burung hantu. Petani pun sangat terbantu karena setahun tetap bisa tiga kali panen dengan aman.

"Petani sangat mendukung program pemberdayaan burung hantu karena dirasa cukup efektif untuk mengurangi hama tikus. Kalaupun ada tikus tapi wajar. Petani senang bisa panen tiga kali dengan aman,” ujarnya MI.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar