Dorong Perekonomian Petani di Boyolali, PLN Mudahkan Akses Listrik Untuk Irigasi Sawah

KBRN Boyolali : Salah satu bukti kehadiran negara dalam menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya para petani di Kabupaten Boyolali adalah melalui PT. PLN yang memberikan kemudahan dalam mengakses listrik untuk sumur pertanian.

Sinergi antara PT. PLN (Persero) UID Jateng & DIY dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali dalam program Electrifying Agriculture [pertanian dengan energi listrik] terselenggara pada Kamis (23/09/2021) dalam acara penyalaan listrik sumur sawah untuk 33 pelanggan sebesar 126.400 Volt Ampere (VA) di Kawasan persawahan Desa Jagoan, Kecamatan Sambi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali Bambang Jiyanto menjelaskan, upaya yang telah dilakukan Pemkab Boyolali untuk pemenuhan air irigasi antara lain bantuan pembangunan sumur dalam di Desa Jagoan tahun 2019, dimana satu sumur bisa mengairi 15 hektar (Ha) sawah.

Pihaknya mengapresiasi PT. PLN yang telah menyambungkan sekitar 89 titik sumur dengan masing-masing daya 3500 VA. Harapannya, kemitraan ini dikembangkan di wilayah lain.

“Masih banyak sentra-sentra produksi pangan kita yang lokasinya jauh dari jalur listrik dan sangat butuh aliran listrik untuk menaikkan air bagi sawahnya, yang tentu saja mohon dengan tarif ringan atau subsidi. Agar biaya produksi bisa ditekan, indeks pertanaman bisa ditingkatkan dan pendapatan petani membaik.” ungkap Bambang.

Pemkab Boyolali harus menyediakan sekitar 118.500 ton beras setiap tahunnya, dan selama lima tahun terakhir mengalami surplus minimal 44.000 ton beras.

“ Meskipun sawah irigasinya sedikit yakni 764 hektar, namun kontribusi produksi gabah dari Kecamatan Sambi di tahun 2020 adalah empat besar setelah Kecamatan Nogosari, Kecamatan Andong, dan Kecamatan Simo. Dengan luas panen 4.058 Hektar, produktifitas 5,8 ton per hektar gabah kering giling (GKG) atau sejumlah 23.548 ton GKG,” tukasnya.

Sementara itu, Manajer PLN UP3 Klaten Elpis J. Sinambela memberikan keterangan bahwa program dari PT. PLN tersebut bertujuan untuk mendorong perekonomian masyarakat terutama petani. Biaya yang dikenakan kepada para petani di Desa Jagoan untuk daya 3500 VA sebesar Rp 3.411.000,-.

“Bagaimana perekonomian itu bisa meningkat antara lain dengan pertanian seperti ini melistriki semua sawah dan juga untuk peternakan.” katanya.

Terpisah, Ketua Kelompok Tani Subur Makmur Pardi, mengaku sangat terbantu dengan adanya program PT. PLN tersebut. Biaya yang dikeluarkan untuk mengairi sawah menjadi lebih murah dibandingkan dengan saat menggunakan bahan bakar minyak (bbm).

“Jika menggunakan bbm, petani harus membeli bensin satu setengah liter atau sebesar Rp 15 ribu, namun dengan listrik untuk memompa air petani hanya mengeluarkan biaya Rp 3 ribu. Berarti selisihnya 12 ribu, lebih murah, lebih enak ngangge [memakai] listrik.” ujarnya. (Kisno/EP)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00