Arfemy Yoana, dari Atlet Panahan Hingga Menjadi Mbak Jawa Tengah

KBRN, Surakarta: Banyak prestasi yang telah ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Salah satunya seperti yang pernah diraih oleh Arfemisantya Yoana Ramadhani, mahasiswa Program Studi D-4 Demografi dan Pencatatan Sipil (DPS) Sekolah Vokasi (SV) UNS. Ia pernah dinobatkan sebagai Mbak Sukowati Kabupaten Sragen, Mbak Jawa Tengah pada tahun 2018, dan berhasil masuk ke 5 besar Duta Wisata Indonesia pada tahun yang sama. 

Sebelum memulai langkahnya dalam dunia pageant, Ia merupakan seorang atlet panahan di Kabupaten Sragen. Femy sering mewakili Sragen dalam berbagai kompetisi di tingkat provinsi. Hal ini yang menjadi nilai tersendiri karena Ia awalnya seorang atlet kemudian terjun ke dunia pageant dengan berbagai macam kesuksesan. Tentu, bukan hal mudah dalam menyesuaikan dari seorang perempuan yang tomboy menjadi lebih feminism. 

Arfemisantya atau yang kerap disapa Femy mengungkapkan jika dua dunia yang berbeda antara olahraga dan dunia duta wisata tentu membuat dirinya harus melakukan penyesuaian.

“Seperti dua kepribadian berbeda, yang satu seorang atlet di lapangan, anak bau matahari, kalau yang satu lebih jaga image, wangi, lebih berpenampilan, dan lebih menarik untuk dipandang. Tapi kemudian gimana sih cara aku untuk bisa mengubah itu. Nah,  aku ikut kelas modelling karena dari jiwa yang tomboy ga mungkin bisa switch semudah itu,” ungkap Femy, Rabu, (04/08/21). 

Femy benar-benar melangkah dari nol karena sebelumnya Ia tidak pernah mengikuti kompetisi serupa. Bahkan, Ia juga tidak memiliki rok selain rok sekolah. 

“Percaya ga percaya kalau ada orang nanya wah Femy dari dulu udah gini-gini nih. Engga, buat jadi duta harus belajar banyak, dari nol, belajar catwalk, duduk yang baik, aku dulu bungkuk. Terus belajar biar enak ketika dipandang orang, kita juga belajar materi, public speaking, itu semua harus dipelajari buat menjadi seorang duta,” terangnya. 

Ia benar-benar mempelajari semuanya dari nol karena paham betul bahwa dalam kompetisi tersebut akan bertemu berbagai pemuda hebat dari berbagai wilayah di Sragen. Femy mengibaratkan ketika hendak berperang harus memiliki amunisi. 

“Masa iya kita mau perang tapi ga punya amunisi. Mau mati di medan perang? Jadi harus mempersiapkan diri sebaik mungkin,” ujar mahasiswa semester 7 tersebut. 

Ia juga sempat minder karena bertemu dengan finalis hebat yang memiliki segudang prestasi, sebagian juga sudah berkuliah dan bekerja, sedangkan Femy saat itu masih berusia 17 tahun. 

“Bocah yang baru aja dari panahan terus belajar buat jadi duta pasti ada rasa insecure, ada rasa minder. Tapi kan balik lagi kita harus yakin, insecure itu ketika hanya berpoin pada kelemahan kita. Buat apa gitu loh, semua dari kita punya kelebihan masing-masing, ya tunjukan itu jangan tunjukin insecurity yang bikin orang ga percaya sama diri sendiri. Gimana orang lain percaya  kalau kita ga percaya sama diri sendiri,” ungkapnya. 

Berkat persiapan yang matang serta rasa percaya diri terhadap kelebihan yang bisa Femy maksimalkan, Ia berhasil dinobatkan menjadi Mbak Sukowati tahun 2018. Hal ini berarti Ia akan melaju pada Pemilihan Mas Mbak Jawa Tengah pada tahun yang sama. Dalam pemilihan Mas dan Mbak Jawa Tengah, Ia berpasangan dengan Ridho Sutan Prayoga. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00