FOKUS: #POLEMIK PARTAI DEMOKRAT

Sempat Memanas, PAC Tolak Hasil Muscab PKB Sragen

Pengurus DPP PKB Muhtarom membacakan susunan nama-nama pengurus DPC PKB Sragen rekomendasi pusat di Muscab PKB.

BRN, Surakarta: Musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sragen, Sabtu (6/3/2021) sempat memanas. Mayoritas pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) menolak hasil Muscab dan meminta ditunda.

Pantauan RRI, pada awalnya Muscab untuk kepengurusan 2021-2026 di Kantor DPC PKB Sragen ini berjalan lancar. Suasana menghangat setelah perwakilan pengurus pusat (DPP) PKB Muhtarom membacakan susunan nama-nama pengurus DPC PKB Sragen.

Dalam surat DPP bernomor  5688/DPP/02/III/2021, perihal persetujuan penetapan DPC Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, tidak ada nama-nama pengurus yang telah diusulkan PAC. Dimana dalam rekomendasi DPP memilih KH Fakhruddin Amir Toha Sebagai Ketua Dewan Syuro sementara H Haryanto sebagai Sekretaris Dewan Syuro.

Sedangkan KH Ahmad Budi Ridwani sebagai Ketua Dewan Tandfidz DPC menggantikan Mukafi. Sekretaris dan Bendahara DPC PKB Sragen dijabat Nur Sugiantoro dan Hendro Supriyadi.

Keputusan DPP ini menyisakan polemik dan protes di kalangan internal. Setidaknya ada enam kepengurusan Pimpinan Anak Cabang dan satu sayap partai dari Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) Perempuan Bangsa PKB yang kecewa dan menolak hasil Muscab.

Mereka menuding Muscab mengabaikan usulan para PAC dimana nama-nama yang sempat masuk usulan tanpa dikoordinir. Mereka menilai mekanisme Muscab telah menyingkirkan orang-orang lama.

Keenam PAC yang menolak itu berasal dari PAC Kalijambe, Ngrampal, Kedawung, Gondang, Gemolong dan Karangmalang. Penolakan juga datang dari sayap partai DPAC Perempuan Bangsa PKB Sragen.

Ketua DPAC Perempuan Bangsa PKB Sragen, Indah Sri Udati menyampaikan menolak hasil Muscab. Sebab Muscab tidak mengakomodir suara di bawah akan tetapi justru ada nuansa sengaja menyingkirkan orang-orang lama yang notabene sudah banyak berjuang merintis hingga membesarkan PKB di Sragen.

"Orang-orang yang dulu berjuang berdarah-darah malah dihilangkan, tapi ini tahu-tahu mereka yang dinilai tidak tahu soal perjuangan membesarkan partai malah dipilih dan menyingkirkan orang-orang lama,” katanya.

Menurutnya, PKB bukan pondok pesantren, tetapi sebuah partai politik. Sehingga sudah semestinya harus dipegang mereka yang berpengalaman dan mampu merangkul semua elemen masyarakat dalam mendongkrak suara partai.

“Apalagi pengurus baru ini belum pernah merasakan pahit getirnya perjuangan membesarkan partai dari nol hingga bisa melahirkan 7 kursi di DPRD Kabupaten, DPRD Propinsi, DPR RI hingga mendudukan wakil bupati," sambungnya.

Pengurus PAC Kecamatan Ngrampal, Rahmad, juga menolak hasil Muscab karena banyak hal yang tidak berjalan dengan semestinya. Menurutnya sesuai tahapan awal, usulan nama pengurus PKB yang baru dari bawah.

"Intinya kami tidak setuju hasil Muscab dan minta dipending saja. Karena sama sekali tidak mengakomodir usulan dari bawah. Sehingga sikap demokrasi telah dihilangkan,” tegasnya.

Protes para peserta Muscab PKB Sragen sempat memanas. Mereka mendesak Muscab ditunda, karena tak mengakomodir pengurus akar rumput. Bahkan diluar Muscab pengurus PAC satu persatu bersuara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00