Reboisasi 6 Ribu Hektar, Upaya Perhutani Bondowoso Cegah Banjir

Upaya Reboisasi Hutan Di Kecamatan Ijen Untuk Mencegah Terjadinya Banjir Dan Longsor

KBRN, Bondowoso: Perum Perhutani KPH  Bondowoso melakukan penghijauan (reboisasi) dengan menanam ribuan bibit pohon di lahan seluas 6.000 hektar, di petak 98 RPH sekitar Gunung Suket, Kecamatan Ijen. 

Adapun jenis pohon yang ditanam di antaranya yakni bibit pohon Macadamia, dan Alpukat.

Adm Perum Perhutani KPH Bondowoso, Andi Adrian Hidayat, menerangkan, kegiatan tersebut sekaligus mengatur reboisasi dan pemanfaatan hutan untuk pertaniannya di area-area tertentu yang sudah dipersyaratkan. 

"Karena peran hutan itu, di antaranya yakni ekonomi, ekologi, dan sosial," jelasnya, Sabtu (27/02/2021).

Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk reboisasi terhadap kondisi hutan yang sudah terlanjur terbuka dengan potensi bencana yang besar.

Lahan-lahan itu sempat ditutup akibat kebakaran hutan pada 2019 dan banjir bandang pada awal tahun 2020 lalu. 

Lebih jauh di menegaskan, masyarakat hanya bisa melakukan aktivitas pertanian di hutan produksi dengan kemiringan kurang dari 30 persen. 

"Kalau untuk pertanian yang kentang, kubis ini. Saya hanya mengijinkan  itu dilakukan di hutan produksi. Bukan di hutan lindung. Itu pun dengan batasan kemiringan kurang dari 30 persen," terangnya. 

Namun, jika lebih dari itu hanya boleh ditanami kopi, alpukat, jadi tetap pohon. 

Sementara itu untuk lahan yang berada di dataran, kata Andi, pihaknya menawarkan masyarakat yang memiliki lahan untuk menggunakan agroforesti pola papan catur. 

Yakni perbandingan blok penggunaan lahan mencapai  51 : 49. Artinya, 51 persen area kehutanan, sisanya pertanian. 

Akan tetapi  tetap ditekankan agar  semua ditutup dengan tanaman pagar. Karena tanaman pagar ini sebenarnya vegetasi yang paling bisa menahan erosi. 

Dalam pengawasannya sendiri, kata Andi, pihaknya bersama Pemerintah Daerah akan melakukan pengawasan secara berkala. Yakni, setiap enam bulan sekali turun langsung. 

"Kita sepakat dengan Pemda untuk melakukan evaluasi. Saya menawarkan enam bulan sekali," jelasnya. 

Evaluasi itu bukan dilihat per petak. Melainkan andil perbandingan 51:49, dan termasuk pembuatan tanaman pagarnya. 

"Andilnya yang tanaman kehutanan tidak jadi, saya tutup. Longornya (tanaman pagarnya, red) tak jadi, saya tutup," tegasnya. 

Disebutkan bahwa jumlah Kepala Keluarga di Kecamatan Sempol mencapai sekitar 3.500. Masing-masing memperoleh 2 hektar lahan. Pihaknya kini masih menunggu pembentukan tim evaluasi dengan pemerintah daerah. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00