18 SDN di Tuban akan Ditutup Tahun Depan

KBRN,Tuban: Mendapatkan label sekolah negeri tak lantas membuat lembaga pendidikan bisa bertahan selamanya. Sekolah negeri pun bisa tutup sewaktu-waktu apabila lembaga pendidikan tersebut dianggap tidak prospek untuk dipertahankan.

Setelah SMAN Widang dan SMAN Senori, tercatat 18 SDN yang direncanakan tutup mulai tahun depan. Mengacu data Dinas Pendidikan (Disdik) Tuban, 18 SDN yang rencana ditutup tersebar di 12 kecamatan.

18 SDN tersebut akan merger atau melebur dengan SD negeri lain di suatu cahaya. SDN yang paling banyak ditutup di Kecamatan Parengan. Jumlahnya 4 lembaga. Selanjutnya, di Kecamatan Rengel 3 lembaga. Tak hanya di kecamatan pinggiran, dua sekolah negeri di kawasan kota pun tak lama lagi tinggal nama. Yakni SDN Kembangbilo II (Kecamatan Tuban) dan SDN Bejagung I (Kecamatan Semanding).

Rencana penutupan SDN tersebut sudah lama dibahas Disdik Tuban dan tercantum dalam surat keputusan (SK) Bupati Tuban tentang  Lembaga SD Negeri di Tuban yang ditandatangani sejak 2020 lalu. Kepala Disdik Tuban Nur Khamid mengatakan, 18 SDN tersebut melalui banyak pertimbangan. Salahsatunya jumlah siswa yang mendaftar setiap tahun tak memenuhi. Puncaknya saat pandemi Covid-19 2020– 2021, siswa di sejumlah sekolah negeri benar-benar sangat minim.

Mereka banyak yang beralih ke pondok pesantren atau sekolah berbasis keagamaan yang diperbolehkan buka. Pemicu lain, kata Khamid, jumlah tenaga pendidik yang tidak memadai. Mantan sekretaris Disdik Tuban ini menyampaikan, beberapa SDN kekurangan guru berstatus aparatur sipil negara (ASN).

Banyak SDN yang selama ini mengandalkan guru honorer sebagai tenaga pendidiknya.

Karena itu, dibutuhkan efisiensi dengan merger dua sekolah menjadi satu.

‘’Ada satu sekolah yang hanya memiliki satu PNS, hanya kepseknya,’’ ujar pendidik yang juga pelatih gulat itu.

Khamid mengatakan, menutup atau merger sekolah bukan hal baru yang dilakukan oleh pemerintah. Sebelumnya, Pemkab Tuban melalui disdik sudah menutup beberapa sekolah karena alasan serupa.

Selain faktor siswa dan guru, juga ada faktor masyarakat. ‘’Beberapa kultur masyarakat daerah tertentu masih banyak yang suka sekolah berbasis keagamaan, sehingga sekolah negeri minim peminat,’’ ungkapnya.

Lebih lanjut mantan kepala SMAN 1 Soko ini mengatakan, tidak semua sekolah minim siswa langsung ditutup. Beberapa sekolah yang minim siswa masih dipertahankan. Pertimbangan utamanya tidak ada lagi lembaga pendidikan terdekat di desa tersebut. Penutupan sekolah baru akan dilakukan jika sudah ada lembaga pendidikan lain yang mengkaver.

‘’Intinya, kami mendorong siswa untuk tetap sekolah, baik di negeri maupun swasta,’’ tegasnya.

Bagaimana nasib siswa dan guru di sekolah yang tutup? Khamid mengatakan, penutupan sekolah bersifat merger. Artinya meleburkan dua lembaga pendidikan menjadi satu. Nantinya, siswa di dua sekolah tersebut akan dijadikan satu. Demikian pula untuk para pendidik dan tenaga kependidikannya.

Khamid menambahkan, sekolah yang berlabel negeri tidak selamanya langgeng. Dengan sejumlah pertimbangan, pemerintah bisa saja menutup sewaktu-waktu. Karena itu, dia meminta semua kepala sekolah dan guru agar gotong royong untuk membuat prestasi sekolah. Dengan prestasi sebanyak-banyaknya, sekolah tersebut juga akan dipertimbangkan kembali untuk dipertahankan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00