Revitalisasi Pasar Tak Hanya Tentang Pembangunan Fisik

Dialog Radio Pasar yang digelar RRI Malang di kantor Diskopindag Kota Malang
KBRN, Malang : Pemerintah Kota Malang terus berupaya melakukan revitalisasi pasar secara bertahap. Selain untuk memberikan rasa aman dan nyaman pada konsumen maupun pedagang, revitalisasi ini juga sebagai salah satu upaya untuk menjadikan pasar di Kota Malang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun upaya revitalisasi pasar tak hanya berkutat pada pembangunan fisik atau infrastruktur, namun juga pada revitalisasi manajemen pasar. 

Hal tersebut dibahas dalam dialog Radio Pasar bertemakan ‘Revitalisasi Pasar, Peningkatan UMKM Masyarakat’ yang digelar oleh LPP RRI Malang bekerjasama dengan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Selasa (15/6/2021). 

Dalam dialog yang dihadiri seluruh kepala pasar di Kota Malang dan Kepala RRI Malang Yanto, SH.MH. ini, pengamat ekonomi pariwisata, Dr. Aang Afandi, SE. MM mengungkapkan, tantangan pasar saat ini adalah adanya dikotomi antara pasar tradisional dan modern. Namun tantangan itu bisa diatasi jika ada upaya agar pasar tradisional punya daya tarik tersendiri.

“Sebenarnya ada tren yang sangat menarik diantara masyarakat kita saat ini. Dilihat dari pangsa pasar tradisional, mereka ingin cari sesuatu yang lain, misalkan suasana tempo dulu. Ini menjadi tantangan bagaimana pasar tradisonal yang kesannya kumuh menjadi lebih baik, sehingga pangsa pasar itu mau belanja di pasar tradisional,” katanya.

Dosen Akutansi Polinema ini menjelaskan, ada empat poin yang dijalankan dalam revitalisasi pasar. Yakni pembangunan fisik. Soal pembangunan fisik ini kerap menuai polemik mengingat harus adanya rekokasi pedagang.

“Ini tantangan Diskopindag untuk bisa meyakinkan pedagang agar mau direlokasi demi proses pembanguan pasar yang lebih baik,” tutur Aang.

Poin kedua adalah pembangunan ekonomi mengingat pasar menajdi tiang ekonomi rakyat. Sebab stabilitas harga komoditas tebentuk di pasar tradisional, bukan pasar modern. 

“Poin ketiga adalah revitalisasi manajemen. Dalam hal ini, kesuksesan pasar tradisional adalah kepedulian semua pihak, semua merasa memiliki pasar. Dengan begini, kebersihan pasar juga akan terjaga,” ungkap dia.

Poin terakhir adalah fungsi revitalisasi sosial. Dalam hal ini, upaya modernisasi pasar tradisional dengan kearifan lokal. Aang mencontohkan, di Pasar Oro-oro Dowo misalnya, pedagang atau petugas pasar bisa menggunakan pakaian tradisional di hari-hari tertentu, atau memutarkan lagu tradisional. 

“Orang merindukan suasana tempo dulu saat datang ke pasar. Potensi menjadikan pasar sebagai salah satu destinasi wisata juga bisa dikembangkan. Misalnya dengn menampilkan sajian tari topeng di pasar Oro-oro Dowo di momen tertentu.  Ini akan menjadi daya tarik tersendiri di sektor pariwisata,” ujar pria berkacamata ini.

Usulan tersebut mendapatkan dukungan dari Kepala Diskopindag Kota Malang, Muhammad Sailendra, ST., MM. Menurutnya, upaya revitalisasi pasar memang tidak hanya difokuskan untuk pembangunan fisik saja, melainkan juga non fisik. 

“Saya juga sangat setuju ketika pasar menjadi destinasi wisata. Tidak hanya pemberdayaan ekonomi dan UMKM,” tandasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00