Masih Banyak Warga Takut Tinggal di Rumah, ACT Terus Intensifkan Pemulihan Trauma Pasca Gempa

Foto; instagram @actmalang

KBRN, Surabaya; Pemulihan trauma (trauma healing) menjadi solusi untuk mengatasi kecemasan dan mengembalikan kondisi emosional masyarakat pasca terjadi bencana gempa. Berbagai pendekatan dapat dilakukan mulai bermain, bercerita, dan sebagainya. 

Public Relation Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Malang Syaiful Anam menjelaskan pasca gempa yang terjadi di Malang, Jawa Timur pada 10 April lalu, hingga kini masih ada warga yang takut untuk tidur di dalam rumah dan memilih menginap di tenda pengungsian maupun diteras rumahnya. Karena itu, pemulihan trauma terus dilakukan terutama bagi lansia dan anak-anak. 

" Selain pendampingan kebutuhan fisik, kita juga memberikan kebutuhan spiritual atau mental. Kita punya tim yang sudah pengalaman untuk bantuan psikologis warga pasca gempa. Rata-rata yang dapat perhatian kami ada lansia dan anak kecil. Kita memberikan dukungan moril, menyemangati dan memberi hiburan agar mereka tidak punya beban mental melanjutkan kehidupan," jelas Syaiful Anam. 

" Sampai sekarang banyak yang belum bisa tidur disana. Meski sudah dipastikan insyallah tidak ada lagi gempa disana. Tapi karena ada gampa susulan yang pagi hari itu, sampai sekarang mereka nggak mau di dalam rumah. Mereka memilih tidur di tenda terpal teras rumah," lanjutnya. 

Namun, ditambahkan Syaiful Anam, dalam pemulihan trauma itu, sering kali tim psikolog terkendala dengan bahasa terutama bagi lansia yang menggunakan bahasa daerah. 

" Pertama kita ngobrol secara santai. Terutama untuk orang tua disana kita ngobrol apapun dengan mereka meski menggunakam bahasa lokal disana. Bahasa itu jadi kendala. Kalau anak kecil kita ajak mainan agar mereka bisa melupakan momen-momen yang bikin mereka panik," imbuhnya.

Selain kegiatan trauma healing, ACT juga membantu korban gempa dengan mendirikan dapur umum dan bantuan lainnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00