Stunting di Kota Kediri Naik O,3 persen

KBRN . Kediri : Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, menyebutkan bahwa rata-rata stunting di Kota Kediri hingga Februari 2020 kemarin berada diangka 10,9 persen. Naik 0,3 persen dari tahun sebelumnya. 

Pesebarannya pun terbagi menjadi sembilan wilayah berdasarkan jumlah puskesmas yang ada di Kota Kediri. Kabid Kesahatan Masyarakat Dinkes Kota Kediri Wigati menyebutkan, setiap kecamatan ada sembilan puskesmas. Sampai saat ini, sebaran stunting terbanyak masih tetap di Puskesmas Balowerti, Kota Kediri. Jumlahnya mencapai 20 persen. 

“Di sana (wilayah Puskesmas Balowerti, Red) memang padat penduduk. Jadi lokasi urban juga,” kata Wigati.

Selanjutnya, yang terbanyak kedua ada di Puskesmas Pesantren I yakni 18 persen. Tingginya angka stunting di tempat ini bisa disebabkan karena faktor lahan yang selama kegiatannya adalah bertani tebu. Sumber masalah bisa saja di fakor lingkungan dari pemupukan kimiawai yang terlalu banyak. 

Ia menjelaskan, bahwa memang kepadatan penduduk menjadi faktor dari sumber daya manusia yang dipengaruhi lewat tingkat pendidikan, kemiskinan, pendapatan, angka harapan hidup, dan persentase sanitasi. 

Selanjutnya, yang terbanyak kedua ada di Puskesmas Pesantren I yakni 18 persen. Tingginya angka stunting di tempat ini bisa disebabkan karena faktor lahan yang selama kegiatannya adalah bertani tebu. Sumber masalah bisa saja di fakor lingkungan dari pemupukan kimiawai yang terlalu banyak. 

Sedangkan di puskesmas lain yang masih tinggi ada di Puskesmas Sukorame ada 12,4 persen; Puskesmas Mrican 11,9 persen; Puskesmas Pesantren II 11,7 persen; dan Puskesmas Kota Wilayah Selatan sebanyak 10,1 persen. 

Sedangkan tiga puskesmas lainnya, yakni Puskesmas Ngletih sebanyak 8,9 persen, Puskesmas Kota Wilayah Utara 4,2 persen, dan terakhir adalah Campurejo sebanyak 0,4 persen. Wigati mengatakan pendataan ini masih menggunakan data lama 2020 karena posyandu di Kota Kediri masih belum beroperasi.

Selama paandemi semua kegiatan posyandu dihentikan. Hal tersebut menyebabkan pendataan belum bisa maksimal. “Saat ini, balita yang masih berisiko masih dalam pemantauan kami,” tuturnya.(AK)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00