Tewasnya Brijen Mallaby Di kota Surabaya

KBRN, Surabaya: Tewasnya Jendral Mallaby dengan beberapa perwira tinggi yang belum genap seminggu sejak mendarat di Surabaya yaitu tanggal 30 Oktober 1945 benar-benar membuat marah pasukannya Inggris yang tergabung dalam gugus tugas Allied Force Netherland East Indie (AFNEI).

Menurut sejumlah pihak, Mallaby dianggap terlalu angkuh dan memandang sebelah mata kekuatan Laskar dan rakyat , selain lemahnya intelejen mereka memetakan potensi ancaman paska keluarnya resolusi jihad tanggal 22 Oktober 1945.Kesombongan itu diwujudkan Mallaby dengan menurunkan pasukannya ke darat , padahal Pemerintah dan militer di Kota Surabaya sudah menawarkan solusi yaitu akan mengantarkan tawanan perang yaitu Tentara dan warga Jepang ke pelabuhan tanjung perak.

Dikutip dari wikipedia, kematian Mallaby inilah yang dianggap kemudian memicu terjadi peperangan lebih besar lagi. Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.Bagi pihak Indonesia, keberhasilan menewaskan seorang jenderal yang memiliki jam terbang tinggi pengalaman memimpin pasukan berperang adalah sesuatu hal membanggakan. Namun terbunuhnya Mallaby justru memantik rasa ingin tahu siapa orang yang berhasil menewaskan Mallaby dan lantas meledakkan mobilnya.Beberapa pelaku sejarah pun tidak pernah tahu siapa yang berhasil menewaskan Mallaby. Termasuk salah satunya almarhum Roeslan Abdulgani dan beberapa pelaku sejarah lainnya.

“Siapa yang menewaskan hingga sekarang tidak ada yang tahu,” ujar almarhum Roeslan dalam sebuah kesempatan.Sejarawan Surabaya, Suparto Brata juga mengatakan, hingga detik ini siapa yang menewaskan Mallaby tetap menjadi misteri. “Tidak ada yang tahu atau saksi mata yang melihat siapa yang membunuh Mallaby,” ujar Suparto Brata.

Mengenaskannya kondisi Mallaby pun juga sempat menimbulkan perdebatan di internal pemerintahan Inggris kala itu. Dalam sejumlah literatur, Tom Driberg, seorang anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party), saat itu menyangkal terbunuhnya Mallaby dengan cara licik.Ia mengatakan, baku tembak yang terjadi di dekat gedung Internatio dipicu kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak dengan pasukan pihak Indonesia.

“Mereka tidak tahu gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi dari Mallaby,” ujar Driberg. Menurut Tom Driberg, dalam debatnya di Parlemen Inggris, setelah memerintahkan penghentian baku tembak oleh pasukan India tersebut, dalam satu titik dalam diskusi gencatan senjata, Mallaby kembali memerintahkan untuk memulai tembakan kembali.

"Hal ini berarti gencatan senjata telah pecah karena perintah Mallaby dan Mallaby tewas dalam aksi pertempuran, bukan dibunuh secara licik,” lanjut Driberg.Dalam ceritanya yang dituangkan dalam sebuah buku, almarhum Roeslan Abdulgani juga menceritakan, kalau pertempuran di depan gedung Internatio dipicu oleh tentara Inggris yang terkurung di dalam gedung melakukan tembakan membabi buta ke arah para pejuang.

Sebenarnya pada saat itu tanggal 30 Oktober 1945. Brigjen Mallaby dan Doel Arnowo Walikota Surabaya sedang berkeliling kota bersama untuk mengumumkan gencatan senjata hasil kesepakatan Tentara Inggris dan Indonesia yang dihadiri Presiden Soekarno sehari sebelumnya.Mereka melakukan pawai bermobil di Surabaya, seperti tampak dalam foto dokumentasi Mallaby dan Doel Arnowo sempat duduk berdua di kap mesin sebuah mobil. Setelah melewati Gedung Lindeteves, mereka ke arah Jembatan Merah. Di sana mereka berhenti di Gedung Internatio yang menampung prajurit Inggris berdarah India.

"Rakyat di muka Gedung Internatio yang semula sudah tampak tenang, timbul amarahnya dengan beratus-ratus mengejar iring-iringan dan menutupi jalan hingga terpaksa rombongan berhenti, persis di muka Jembatan Merah. Keadaan sangat gaduh," tulis Mohammad Mangundiprojo dalam risalah yang dimuat dalam Seratus Hari Di Surabaya Yang Menggemparkan (1975).“Mallaby sudah berada di luar mobil yang ia tumpangi sedang pistolnya oleh rakyat yang mengerumuninya sudah direbut," kata Mangundiprojo yang melihat kejadian itu. Menurut Mangundiprojo, rakyat yang sudah panas tidak percaya pada biro yang bersikap diplomatis terhadap militer Inggris.Rakyat yang berkerumun itu tak tahu siapa Mallaby. Perwira yang hampir berusia 46 tahun itu hendak masuk ke gedung Internatio. Dia dihalangi massa rakyat di luar gedung. “Jangan yang tua, yang muda saja," kata salah satu massa rakyat. Akhirnya Kapten Shaw disuruh masuk Gedung Internatio oleh Mallaby.Sebetulnya, menurut Mangundiprojo, Mallaby sudah setuju Gedung Internatio dikosongkan dari militer Inggris. 

Mangundiprojo sendiri memasuki gedung tersebut untuk ikut berunding. Saat sudah di dalam itulah Mangundiprojo melihat sebuah mortir disiapkan tentara Inggris.Hari sudah hampir gelap ketika itu. Namun ketegangan belum juga akan reda. Di dalam gedung, orang-orang Indonesia yang menjadi anggota biro segera menjadi sandera ketika suara tembakan meletus. Tak jelas siapa yang memulai tembakan dalam kekacauan itu. Di dalam Gedung Internatio itu beberapa perwira Inggris begitu khawatir pada Mallaby yang berada di tengah kerumunan massa yang dianggap berbahaya.Mayor Venu K. Gopal dari Militer Inggris-India, komandan Kompi D Batalyon 8 Maratha yang bertahan di Gedung Internatio itu, segera memberi perintah tembak dan lemparan granat ke arah kerumunan massa agar mereka bubar agar Mallaby bisa membebaskan diri. Granat itu memang berhasil membubarkan massa aksi dari sekitar mobil yang ditumpangi Mallaby. Namun Mallaby dan beberapa perwira Inggris sedang berada di dalam mobilnya tetap tak bisa jalan.

Menurut David Wehl, Mallaby bersama beberapa perwira Inggris lainnya, ia duduk di dalam mobil ketika ada baku tembak. Ketika tembakan mereda, Mallaby mengintip untuk memantau situasi. Beberapa pemuda tak dikenal kemudian mendekat. Kapten R.C. Smith, seperti dikutip J.G.A. Parrot dalam Who Killed Brigadier Mallaby (1975), melihat ada pemuda yang kemudian menembak Mallaby dari jarak yang cukup dekat. Itulah senja terakhir bagi Mallaby.“Namun siapa yang membunuh, belum pernah ada saksi mata,” ujar almarhum Roeslan. Kematian Mallaby tetap dalam misteri.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00