Tuntut Keadilan, Keluarga Suparmi Geruduk Kejari Bondowoso

LBH Abu Nawas Saat Mendampingi Keluarga Suparmi Saat Unjuk Rasa di Kejaksaan Negeri Bondowoso
Aksi Unjuk Rasa Menyedot Perhatian Pengguna Jalan

KBRN, Bondowoso : Keluarga Suparmi, pasien Covid-19 yang meninggal dunia karena diduga kelalaian petugas rumah sakit, menggeruduk Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso untuk menuntut sejumlah keadilan dan kejelasan, Senin (06/12/2021).

Dengan mengenakan kaos hitam bertuliskan " Justice For Suparmi ", 27 demonstran yang didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Abu Nawas, meminta kepastian hukum kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Kajari Bondowoso, terkait pengembalian berkas perkara untuk dilengkapi atau P-19. 

" Bapak JPU dalam hal ini yang menjadi tim Justice For Suparmi, berikan kami yang riil kenapa itu P-19. Dan kami tidak akan pernah mundur sedikitpun, sampai kapanpun," tegas kuasa hukum keluarga Suparmi, Nurul Jamal Habaib, SH.

Habaib yang juga menjadi korlap aksi tersebut mengancam jika kasus yang terjadi pada 10 bulan lalu tersebut menghilang, dia menyebut akan mengarahkan massa yang lebih besar. Pasalnya, sudah banyak bukti-bukti yang disajikan melalui SP2HP, mulai dari CCTV, pemeriksaan perawat dan pernyataan Direktur RSUD Koesnadi bahwa kedua nakes tersebut telah dibebastugaskan.

" Saya harap JPU tetap on the track. Ini cuma 27, jangan salahkan saya kalau Allah kirimkan 27 ribu orang ke sini," katanya.

Sementara itu, Kasi Pidum Kejari Bondowoso, Paulus Agung Widaryanto menguraikan bahwa aksi unjuk rasa adalah salah sasaran. Menurut Agung, apa yang mereka sampaikan adalah fakta berkas berstatus P-19 untuk dilengkapi oleh penyidik. Sementara, ia mengaku sampai saat ini berkas perkara tersebut belum juga dilengkapi oleh penyidik.

" Tahu-tahu timbul dari pendemo menyampaikan aspirasinya. Harusnya mereka nanya ke sana, kenapa petunjuk begitu. Bisa dilengkapi, kenapa," terangnya.

Adapun berkas-berkas yang belum dilengkapi cukup banyak. Karena yang pasal yang disangkakan adalah kelalaian perawat yang mengakibatkan kematian. Sementara dari berita acara kematian, disebutkan bahwa Almarhumah Suparmi meninggal karena menderita penyakit komplikasi.

" Pneumonia plus Diabetes Mellitus sama Covid. Dan dia dirawat disitu sudah 14 hari. Saya temukan alat buktinya ini," urainya.

Selain itu, ia menyayangkan kenapa berkas yang berstatus P-19 bisa bocor ke publik. Padahal P-19 itu hanya dimiliki oleh penyidik untuk melengkapi berkas-berkas.

" Ya itu konsumsi penyidik kan. Penyidik yang melengkapi. Mungkin selevel Kasat sama Kapolres yang tahu," tuturnya.

Ditambahkan Kasi Intel Kejari bahwa untuk pembuktian di sidang mutlak menjadi tanggung jawab Jaksa Penuntut Umum. Karena JPU lah yang akan membuktikan suatu perkara di pengadilan. Sehingga PJU memberikan petunjuk untuk melengkapi alat bukti minimal 5.

" Terkait dengan kematian yang bersangkutan itu, karena dianggap kelalaian, penyebab kematian apa, itu perlu dikonfirmasi oleh ahli," bebernya.

Kalau kematian Suparmi terbukti karena komplikasi penyakit, kata Sucipto, maka kasus tersebut akan batal di pengadilan. Sehingga, diperlukan penelitian oleh ahli tentang penyebab kematian korban.

" Nah justru itulah jaksa memberikan petunjuk supaya penyebab kematiannya supaya detail oleh ahlinya,"pungkasnya. (san)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar