Misteri Tenggelamnya Kapal Van der Wijck 1936

KBRN. Surabaya : Tanggal 28 Oktober 1936 hampir 85 tahun yang lalu di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal dagang dan penumpang Belanda bernama Van der Wijck  tenggelam, Kapal mewah yang dibuat di galangan kapal Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921 yang merupakan kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam.

Kapal besar berpenumpang ratusan orang itu tenggelam di laut Jawa, tidak jauh dari pelabuhan Brondong. Sebagai keturunan arek Lamongan , kisah ini pernah saya dengar dari Mbah Kakung dulu saat kecil.

Waktu itu katanya banyak penumpang yang diselamatkan oleh para nelayan Brondong dan Blimbing.

Maka atas  jasa nelayan Brondong dan Blimbing itu, banyak awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan dan Pemerintah Hindia Belanda mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan untuk mengenang peristiwa tersebut dan menghormati jasa nelayan.

Tugu dengan  tinggi 15 meter memiliki dua prasasti, yang pertama adalah ucapan terima kasih pemerintah kolonial Belanda kepada warga setempat yang telah menolong mereka tanpa membedakan agama atau RAS.

Kapal van der Wijck adalah kapal mewah pada jamannya yang dinamai menurut Gubernur Jenderal Hindia Belanda Carel Herman Aart Van der Wijck. Mungkin ini seperti kapat Titanic. Bedanya Titanik sangat besar.

Carel Herman merupakan seorang Belanda yang lahir di Ambon pada 29 Maret 1840 dan meninggal di Baarn, 8 Juli 1914.

Semasa hidupnya, Carel Herman pernah melaksanakan tugas dan operasi “Pengendalian Lombok” di bawah perintah Ratu Emma van Waldeck-Pymont. Dalam operasi tersebut, Belanda tercatat membantu Lombok melakukan penyerangan terhadap istana Cakranegara di Ampenan. Setelah istana tersebut dikuasai, Belanda mengklaim Lombok sebagai salah satu wilayahnya.

Berkat operasi ini, Kakawin Nagarakertagama karya Empu Prapanca dapat diselamatkan dari kebakaran istana Cakranegara dan dibawa ke Belanda. Selain Lombok Pacificatie, Carel Herman pun terlibat dalam operasi pendudukan kerajaan Atjeh.

Kapal Van der Wijck memiliki panjang sekitar 97.5 meter dengan lebar 13.4 meter dan tinggi 8.5 meter. Kapal ini terbagi menjadi tiga kelas, yakni kelas pertama dengan kapasitas 60 penumpang, kelas dua sebanyak 34 penumpang, dan geladak dengan daya tampung 999 penumpang.

Kapal Van der Wijck tenggelam di kawasan Westgat, selat di antara Pulau Madura dan Surabaya pada 20 Oktober 1936. Kala itu, kapal hendak berlayar menuju Semarang ini dinahkodai oleh B.C. Akkerman, nahkoda senior dengan pengalaman selama 25 tahun.

Kabarnya saat kecelakaan terjadi, Kapal Van der Wijck membawa sekitar 250 penumpang. Di samping penumpang, kapal ini pun membawa muatan kayu besi yang rencananya akan dibongkar di pelabuhan Tanjung Priok dan dibawa ke Afrika.

Usia kapal yang tergolong muda membuat pemerintah heran mengapa kapal dapat tenggelam. Saat operasi penyelamatan, pemerintah Hindia Belanda sempat mengerahkan delapan pesawat udara Dornier dikirim untuk menyelamatkan penumpang. Termasuk kapal bantuan dan perahu nelayan setempat turut membantu mengevakuasi korban.

Tercatat 153 penumpang selamat, 58 penumpang tewas, dan 42 lainnya hilang seperti di tulis oleh de Telegraaf pada 22 Oktober 1936. Namun, sebenarnya tidak ada angka pasti karena pencatatan tidak sesuai. Rupanya sejak dulu pencatatan di atas kapal tidak pernah akurat karena adanya korupsi dan kolusi antara awak dan penumpang. Hingga puluhan tahun berlalu, kasus tenggelamnya kapal Van der Wijck masih diselubungi misteri.

Catatan lain menyebutkan jika jumlah penumpang pada saat itu adalah 187 warga pribumi dan 39 warga Eropa. Jumlah awak kapalnya terdiri dari seorang kapten, 11 perwira, seorang telegrafis, seorang steward, 5 pembantu kapal dan 80 ABK dari pribumi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar