PWI Kediri Gelar FGD Pengelolaan Bisnis Media Di Tengah Era Disrupsi

PWI Kediri Gelar FGD Pengelolaan Bisnis Media Di Tengah Era Disrupsi. (Foto: Ayu Citra)
CEO Andika FM, H. Rofik Huda (dua dari kiri), memaparkan Konsep Citizen Journalism hingga Andika TV untuk menghadapi Era Disrupsi. (Foto: Ayu Citra)

KBRN, Kediri: Persatuan Wartawan Indonesia (Indonesia) Kediri menggelar  Focus Group Discussion (FGD) bertema Sinergitas Akademisi dan Praktisi, Dalam Membangun Pengelolaan Bisnis Media di tengah Pergeseran Teknologi Komunikasi (Era Disrupsi), di Kantor PWI Kediri, Jalan Mayor Bismo Nomor 37A Kediri, Selasa, (22/6/2021).

"Ya agenda ini, dihadirkan oleh Bidang Pendidikan Dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri, dengan mengundang sejumlah narasumber kompeten di bidangnya. Dalam acara ini, kami juga mengundang sejumlah peserta yang berasal dari BEM IAIN Kediri, BEM Universitas Pawyatan Daha Kediri, BEM Universitas Brawijaya (UB) Kediri, BEM Universitas Nusantara PGRI Kediri, dan BEM Universitas Kadiri (Unik), BEM Universitas Islam Kadiri (Uniska)," kata Ketua PWI Kediri, Bambang Iswahyoedhi, saat memberikan sambutan, di FGD bertema Sinergitas Akademisi dan Praktisi, Dalam Membangun Pengelolaan Bisnis Media di tengah Pergeseran Teknologi Komunikasi (Era Disrupsi), di Kantor PWI Kediri, Jalan Mayor Bismo Nomor 37A Kediri, Selasa, (22/6/2021).

Untuk narasumber yang dihadirkan, jelas Bambang, antara lain Founder Koran Memo Group, Mega Wulandari, CEO Andika FM, H. Rofik Huda, Dewan Pembina PWI Kediri, dan Tribunnews.com sekaligus Harian Surya, Didik Mashudi. Ada pula Wartawan SCTV dan Indosiar sekaligus Ketua AJI Kediri Raya, Danu Sukendro.

"Selain mendatangkan narasumber dari kalangan profesional, kami juga mengundang Praktisi Komunikasi, serta Dosen KPI dari IAIN Kediri, Dr Prima Ayu Rizky Mahanani, dan Dosen KPI, IAIN Kediri Dr Prilani," katanya.

Turut hadir memberikan sambutan, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri, Dr H. M. Asror Yusuf M.Ag.

Asror menyampaikan, bahwa kegiatan FGD yang digagas PWI Kediri dengan menghadirkan sejumlah narasumber profesional ini sangat bermanfaat bagi kalangan mahasiswa. Bahkan bisa menjadi bekal mereka jika kelak berkecimpung di dunia jurnalistik.

"Acara ini wujud sinergitas akademisi dan praktisi di Kediri. Kami meyakini dengan kegiatan semacam ini maka mahasiswa bisa memiliki tambahan wawasan dalam memahami perkembangan media jurnalistik dan seperti apa tantangan industri media di era kekinian," katanya.

Pada acara ini, Dewan Pembina PWI Kediri, Jurnalis Tribunnews.com dan Harian Surya, Didik Mashudi, menuangkan, ide tentang pendirian Program Studi Media Sosial kepada IAIN Kediri.

"Memang perwujudan sebuah Prodi bukan hal yang mudah. Namun, kita perlu mencoba hal ini karena ke depan, generasi muda membutuhkan bekal yang cukup untuk menghadapi perkembangan zaman dan teknologi informasi. Sebab, kita tahu saat ini media sosial sangat mudah diakses dan memunculkan banyak informasi, sedangkan media mainstream membutuhkan banyak waktu dan tahapan editing untuk memproduksi berbagai berita sebelum disuguhkan kepada publik," katanya.

Menanggapi pembentukan Prodi Media Sosial, Dosen KPI, IAIN Kediri Dr Prilani,  menyatakan, bahwa untuk pendirian Program Studi ini diperlukan banyak pertimbangan menyeluruh. Penyebabnya, pun dibutuhkan serangkaian kajian terlebih dulu.

"Dulu pernah ada pembentukan Prodi Event Organizer (EO). Namun ini sempat terkendala oleh Nomenclatur, jadi tidak mudah bisa terwujud. Padahal, kami sudah menyiapkan serangkaian Mata Kuliah tentang EO, misalnya Manajemen EO. Tapi ini belum kuat, untuk merealisasikan Prodi EO ini," katanya.

Namun demikian, saran Prilani, di tengah konvergensi media seperti sekarang dibutuhkan Blue Print antara Industri Media dan Perguruan Tinggi. Misalnya untuk Perguruan Tinggi, diharapkan lembaga ini bisa memiliki idealisme yang paten soal seperti apa profil sosok Jurnalis.

"Hal yang sama juga terhadap Industri Media, mereka pun perlu merinci kategori Jurnalis apa yang dibutuhkan olehnya. Nanti setelah ada persamaan kompetensi inilah, maka dari pihak kampus bisa merekomendasi mahasiswanya, misal untuk pelaksanaan Magang atau PKL. Namun demikian, kami dari pihak kampus juga tidak bisa memaksa dan mengintervensi, mahasiswa ini harus magang di posisi yang diinginkan, karena itu tergantung kondisi terkini di perusahaan media itu," katanya.

Pada kesempatan sama, Dosen KPI dari IAIN Kediri, Dr Prima Ayu Rizky Mahanani, mengatakan, bahwa di era konvergensi media ini, masyarakat terutama kaum muda sudah tidak lagi memiliki impian bekerja di suatu perusahaan. Namun, mereka lebih memilih cita-cita sebagai YouTuber, atau pengisi konten media.

"Tren seperti ini muncul sejak adanya media sosial, dan kini anak-anak kecil saja sudah ingin jadi YouTuber. Mereka percaya, dengan membuat konten media bisa menghasilkan banyak pundi-pundi uang. Padahal, seorang Micro Selebrity bisa terkenal, dan punya uang lebih, itu karena ia kreatif memproduksi konten medsos yang diminati pasar, tapi kalau tidak ada Like atau Subscribe ya, hal itu tidak mungkin," katanya.

Di tempat serupa, Ketua AJI Kediri Raya, dan Jurnalis Indosiar, Danu Sukendro, mengemukakan, Era Disrupsi dimulai antara tahun 2010 hingga 2020. Saat itu, tepatnya sekitar tahun 2015 ada 15 surat kabar di Jakarta yang gulung tikar karena perkembangan konvergensi media.

"Luar biasa memang, era Disrupsi saat 2010-2020. Sampai-sampai ada 15 media cetak di Jakarta yang terpaksa tergerus. Padahal dulu, pada usia saya remaja perkembangan media cetak seperti Majalah, banyak digemari. Namun sekarang, zamannya sudah berbeda dan masyarakat harus bijak dalam menyikapinya," katanya.

Di lain pihak, hadir CEO Andika FM, H. Rofik Huda, mengemukakan, strategi menyikapi Era Disrupsi dengan Citizen Journalism.

"Kami pilih Citizen Journalism ini, karena dulu saat awal berdiri, tidak punya banyak wartawan. Namun sekarang dengan perkembangan media sosial yang cukup massive, kami sempat kewalahan dalam menampung banyak informasi yang diberikan publik. Alhamdulillah dari 100 persen informasi yang masuk, sekitar 99 persen bukan berita hoax. Ini kenapa, karena unsur Trust yang sudah diberikan oleh pendengar kepada Andika FM, sehingga suatu saat ketika ada telepon  berdering dan tidak segera diterima oleh Gatekeeper, saya selalu marah, karena pendengar butuh dilayani dengan baik dan ditampung infonya," katanya.

Pada era kekinian, imbuh Rofik, persaingan media massa, terutama radio sangatlah ketat. Namun, pihaknya meyakini bahwa media radio masih akan diminati oleh publik sampai kapanpun.

"Akan tetapi, pemilik radio atau pimpinan media radio harus pandai melihat pasar. Memang selama manusia masih memiliki telinga dan bisa mendengar, radio tetap eksis. Tapi, hal yang patut diingat, radio sudah bukan zamannya lagi, kirim-kirim salam, atau request lagu. Ingat sekarang di dunia maya sudah banyak kumpulan lagu hitz, dan tinggal diunduh. Nah, zaman sekarang sudah berubah, dan media radio saatnya memiliki banyak platform yang diminati publik. Seperti di Andika FM, saya tak hanya mengembangkan berita lewat Facebook AG243, tapi kini juga membuat Andika TV," katanya.

Sementara itu, Founder Koran Memo Group, Mega Wulandari, ikut memberikan pandangan soal Era Digitalisasi dan Tantangan Media.

"Di era digital sekarang, Pengelola Media patut memiliki sejumlah kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan. Misalnya harus bisa menjaga Cashflow Perusahaan Media hingga memperhatikan kesejahteraan karyawannya," katanya.

Mega menyarankan, pada masa kekinian saat ini, Pengelola Media juga dituntut untuk bisa memahami selera pasar. Alhasil, di beberapa daerah bisa muncul adanya Kapitalisme Media.

"Walau demikian, kita Pengelola Media harus pintar-pintar mengatur manajemen perusahaan dan menjaga idealisme sebagai seorang jurnalis. Meskipun notabene, pendapatan perusahaan media itu ada yang bersumber dari APBN/APBD maupun dari pihak lain, sebaiknya Pengelola Media tetap berpegang teguh pada Keberimbangan Berita yang disajikan sesuai kebenaran fakta di lapangan, dan bukan demi kepentingan golongan tertentu, melainkan untuk Keterbukaan Informasi yang sesuai dengan kaidah dan Kode Etik Jurnalistik," katanya.(ac)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00