Korban Pencabulan Oknum Pengasuh Ponpes di Mojokerto Bertambah

M Dhoufi pengacara para korban. (FOTO/ISTIMEWA)

KBRN, Kabupaten Mojokerto : Kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum pengasuh Ponpes di Kabupaten Mojokerto bertambah, dari sebelumnya 1 orang kini menjadi empat santriwati. Semua korban tergolong dibawah umur, dua di antaranya kakak-adik asal Kota Surabaya.

Kuasa hukum para korban, M Dhoufi mengatakan, ads tiga orang santri lagi yang juga melaporkan AM (52), selaku pengasuh Ponpes tersebut. Mereka merupakan gadis berusia 12 tahun asal Lamongan, serta kakak-adik berusia 12 dan 10 tahun asal Surabaya.

"Total sampai sekarang ada 4 korban. Tiga korban baru dalam pengakuan awal dicabuli saja oleh tersangka. Para korban sudah dimintai keterangan oleh penyidik kepolisian," kata Dhoufi kepada wartawan, Rabu (27/10/2021).

Pencabulan tersebut, lanjut Dhoufi, diduga dilakukan AM di asrama santri putri menjelang tengah malam. Menurut dia, modusnya sama, korban yang tidur pulas di asrama santri putri, menjelang tengah malam. Saat korban terbangun, tersangka lantas mengajaknya ke kamar kosong di belakang asrama.

"Bujuk rayunya, santriwati disuruh taat terhadap gurunya supaya mendapatkan berkah dari kiai atau ustadz," terangnya.

AM meminta dipijat oleh korban di kamar tersebut. Selanjutnya tersangka memerkosa korban. Untuk melancarkan aksinya, ia meminta korban menuruti kemauannya agar mendapatkan berkah dari guru.

"Selain itu, ia juga mengiming-imingi akan memperistri korban. Kalau korban pertama sejak 2018 sampai 2021 hampir tiap bulan diperlakukan seperti itu," ungkap Dhoufi.

Sementara Kasipidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko menjelaskan, pihaknya telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) dari penyidik pada 21 Oktober 2021. Sejumlah jaksa telah ia tunjuk untuk mengikuti perkembangan kasus ini.

Ia membenarkan, korban pencabulan yang diduga dilakukan AM lebih dari satu santriwati. Untuk sementara, baru satu santriwati yang mengaku dicabuli sekaligus diperkosa tersangka.

"Hasil koordinasi kami dengan penyidik, korban lebih dari satu. Namun, jumlah dan jenis kelaminnya kami belum bisa menyampaikan karena tidak menutup kemungkinan nanti korban akan bertambah," terangnya.

Diberitakan sebelumnya, Polres Mojokerto telah menetapkan AM sebagai tersangka dalam kasus pencabulan dan pemerkosaan terhadap santriwatinya sendiri pada Selasa (19/20). Pengasuh Ponpes itu mulai ditahan di Rutan Polres Mojokerto pada hari yang sama.

AM dijerat dengan Pasal 81 atau Pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016, tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

Sedangkan korban pertama adalah santriwati asal Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Gadis berusia 14 tahun 8 bulan itu diduga dicabuli sekaligus disetubuhi oleh AM sejak 2018 sampai 2021.

Melalui tim pengacaranya, AM membantah telah mencabuli dan memerkosa santriwatinya sendiri. Karena bapak empat anak itu tinggal di lokasi berbeda dengan korban.

AM disebut tinggal di pondok putra di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo. Sedangkan korban di pondok yang berlokasi di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo untuk santri putri

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00