Kasus Sarung BHS Mandek, Kuasa Hukum Dorong Second Opinion Dokter

Tim pengaca BHS

KBRN, Surabaya : Kasus pemalsuan sarung merk BHS menemui kendala. Hal itu lantaran pelimpahan tahap II dari Ditreskrimsus Polda Jatim ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Selasa (12/10/2021) mendapatkan penolakan Kejakasaan. 

Menurut Ma'ruf Syah kuasa hukum pemilik merk paten sarung BHS, informasi dari penyidik yang diterimanya salah satu dari empat tersangka tidak bisa dihadirkan pada proses tahap 2 lantaran RK terbaring sakit dirumahnya.

"Ketika penyidik akan menyerahkan berkas tahap II, kuasa hukum RK mengirimkan surat kepada penyidik bahwa kliennya sakit." Ungkap Ma'ruf Syah.

Menyangkut tidak hadirnya tersangka karena sakit dalam proses tahap II. Menurut Ma'ruf Syah dalam kasus ini penyidik bisa juga melakukan upaya mendatangi rumah tersangka dengan membawa dokter dari kepolisian untuk melakukan pemeriksaan medis pembanding.

“Penyidik bisa juga membawa dokter kepolisian untuk memeriksa kondisi kesehatan tersangka. Upaya itu bisa juga dijadikan sebagai pemeriksaan medis pembanding atau mengeceke kondisi kesehatan terbaru pada tersangka ketika belum diserahkan ke kajaksaan negeri Sumenep," ujar pria lulusan dokter fakultas hukum Unair ini.

Terpisah, Kasubdit Indagsi Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Suryono memastikan bahwa pihaknya serius untuk menuntaskan perkara ini. Dia memahami bahwa, ketika berkas perkara sudah lengkap alias P21, maka harus dilanjutkan ke pelimpahan tahap dua (pelimpahan barang bukti dan tersangka ke kejaksaan).

"Ada satu tersangka yang memang kondisinya sakit. Kami sudah cek dan ada dokter yang mengecek. Dia (RK) hanya bisa terbaring di rumahnya. Usianya sudah 82 tahun. Nanti kami akan minta pengacara (kuasa hukum BHS) untuk mengecek langsung tersangka (RK)," katanya. 

Kasus ini bermula saat PT Behaestex melaporkan praktik bisnis pemalsuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan mencatumkan logo BHS di setiap sarung yang didistribusikan di wilayah Sumenep Madura dengan Nomer LP.B/38/VIII/2019/SUS/JATIM/ Tanggal 01 Agustus 2019.

Dari laporan itu, penyidik menetapkan empat tersangka masing masing berinisial RK berperan sebagai terduga pemalsu merk dan NH, AZ, AM. Berperan sebagai penyuplai dan pemasok ke pasar-pasar. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00