Mantan Rektor Disomasi Mahasiswa Unars Situbondo

Alumni dan Mahasiswa Unars melayangkan somasi kepada seorang mantan Rektor dan tiga pendiri Unars, karena dinilai telah menyebarkan berita bohong. Senin (23/11/2020) (Foto Diana Arista).

KBRN, Situbondo : Alumni dan Mahasiswa Universitas Abdurahman Saleh atau Unars melayangkan somasi kepada mantan Rektor Unars, Hadi Wiyono.

Mereka menilai, Hadi Wiyono menyebarkan informasi bohong, terkait surat yang menyatakan akta notaris Yayasan Abdurahman Saleh nomor 44 tahun 2010 tidak sah secara hukum.

"Akta yang ada sudah berkekuatan hukum tetap, sah menurut aturan hukum," ujar Koordinator alumni dan mahasiswa Unars, Aman Al Muhtar, Selasa (24/11/2020)

Menurutnya, informasi yang disebarkan Hadi Wiyono itu tidak mempunyai pijakan hukum, sebab tidak ada satu pun putusan pengadilan yang menyatakan akta notaris yayasan Unars 44/2010 itu tidak sah. 

"Lantas apa dasar mereka? Kok tiba-tiba bilang akta tahun 2010 tidak sah secara hukum,” ucapnya dengan nada kesal.

Ia dan alumni lainnya sangat menyayangkan tindakan mantan Rektor tersebut. Terlebih, pernyataan Hadi Wiyono bersama kawan-kawannya itu sudah disebar kemana-mana termasuk kepada Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto.

"Ini berita bohong yang perlu diluruskan. Karena ini jelas fitnah karena tidak sesuai dengan fakta," bebernya.

Selain melayangkan somasi kepada Hadi Wiyono, tiga orang lainnya yakni I Nengah Tela, Sri Harini dan Abdul Manan, juga disomasi. Mereka diberikan waktu 3x24 jam untuk menyatakan permintaan maaf dan mencabut pernyataan tertulis yang telah diedarkan.

"Jika mereka tidak melakukan itu, maka kami secara resmi akan melaporkan ini kepada aparat kepolisian. Karena yang mereka lakukan sudah masuk ranah pidana. Yakni berita bohong yang merugikan alumni dan Universitas Abdurahman Saleh,” ungkapnya.

Sementara, Hadi Wiyono saat dikonfirmasi tetap bersikukuh menyatakan bahwa akta tahun 2010 itu tidak sesuai. Bahkan dia mengaku memiliki bukti dan alasan kuat.

“Karena isi di akta tahun 2010 tidak ada kaitannya dengan akta tahun 1981. Mestinya pendiri yang masih hidup dicantumkan di akta tahun 2010.  Pendiri-pendiri yang tidak disebutkan itu adalah drs Abdul Manan, I Nengah Tela, dan Sri Harini,” terang Hadi. 

Hadi Wiyono juga mengaku mendapatkan kuasa dari ketiga pendiri tersebut. Jadi seharusnya somasi itu dilayangkan kepada ketiga pendiri itu, bukan kepada dirinya. 

"Saya hanya diberi kuasa oleh mereka bertiga. Jadi kalau mau somasi, ya harusnya melakukan somasi terhadap mereka bertiga, bukan saya,” terangnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00