Proyek Reklamasi di Pesisir Sidoarjo Bikin Petani Tambak Terancam

Peta kawasan timur Sidoarjo (foto : google earth)

KBRN, Sidoarjo : Akibat pengurukan oleh pengembang, Kawasan tambak ikan air tawar di Kabupaten Sidoarjo Jatim berkurang. Dalam beberapa tahun terakhir dari 15 ribu hektar, saat ini hanya tersisa 9 ribu hektar.

Banyak lahan tambak di kawasan Kecamatan Jabon hingga Buduran yang ternyata sudah berubah menjadi kawasan sektor industri dan perumahan.

Kepala Dinas Kelautan Kabupaten Sidoarjo, Bachruni menuturkan, reklamasi kawasan tambak oleh perusahaan atau industri mengakibatkan hampir 40 persen kawasan tambak di Kota udang ini hilang.

"Kurang lebih 9 ribu hektar lahan tambak yang masih eksis. Dari 15 ribu menjadi 9 ribu," terang Bachruni kepada Radio Republik Indonesia (RRI), Senin (25/10/2021).

Bachruni menambahkan, dari data Bappeda (Badan perencanaan pembangunan daerah) Kabupaten Sidoarjo, lahan tambak tercatat masih ada 15 ribu hektar tambak, dan 11 ribu hektar masih eksis dan sebagian sudah teruruk perusahaan maupun pengembang.

"Tapi kalau dalam catatan di RT RW kita hingga tahun 2026 masih ada sekitar 9 ribu hektar nanti yang baku," jelasnya.

Reklamasi kawasan lahan tambak ini beriringan dengan menurun drastisnya produksi udang Windu. Asyik (60) petani tambak asal Desa Rangka Kecamatan Kota Sidoarjo mengatakan, potensi budidaya udang windu untuk saat ini sangat jauh dibanding hasil panen sekitar 10 -15 tahun kebelakang.

"Sekitar tahun 2000 an itu lah mulai banyak penyakit yang menyerang udang windu. Belum waktunya panen terpaksa dipanen. Ukurannya kecil," kata Asyik.

Asyik menilai, kuwalitas air sungai sudah mulai buruk untuk perkembangan udang windu. Untuk menjaga eksistensi produksi lahan tambaknya kini para petani beralih ke udang Faname, yang cukup tahan dari serangan penyakit.

"Karena dilihat dari air sungainya sekarang jelek dan tanah pada tambak sudah terkontaminasi jelek. Entah dari limbah rumah tangga, atau limbah perusahaan sepertinya itu penyebabnya," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00