Miris, Mbah Hindun, Hidup di Dekat Ponten Umum

Mbah hindun di dalam gubuknya

KBRN, Surabaya : Hidup seorang diri dengan keterbatasan dalam kemiskinan. Mbah Hindun (80), satu dari realitas kehidupan. Tinggal di gubuk seadanya berukuran 1 X 2 meter, nenek Hindun hanya bisa mengharap belas kasihan warga sekitar. 

Miris, Tidak hanya gubuk kurang layak yang ia tempat di kampung 1001 Malam, Dupak, Surabaya. Tempat tinggal mbah Hindun juga bersebelahan dengan ponten umum, dimana warga membuang hajat. 

"Kalau hujan bocor, nak. Saya harus minggir. Wong tidurnya disini. Air hujannya saya tampung," ungkap mbah Hindun membuka percakapan kepada rri.co.id, Selasa(13/4/202).

Kepada rri.co.id, mbah Hindun mengaku sehat. Ia juga bercerita untuk makan mendapatkan bantuan dari warga. Ia menyampaikan terpaksa harus mengemis untuk mendapatkan uang. 

"Kadang memungut sampah, kadang mengemis. Sehari dapat uang 15-20ribu. Mak sudah tua tidak bohong," ujarnya. 

Udin, Salah seorang tetangga mengakui bahwa mbah hindun sebatang kara. Tidak ada sanak saudara menjadikan warga sekitar Secara sukarela memberikan bantuan termasuk tempat tinggal. 

"Tidak punya saudara. Dulu ada saudaranya kalau gak salah di jalan Greges, tapi kok gak tau kayak dibuang gitu. Pokoknya tetangga kanan kiri membantu. Gubuk yang buat saya terus terang saja. Ya harapannya pemerintah lebih peduli," paparnya. 

Menurut Pengurus Kampung 1001 Malam, Sigit Santoso alias Mamik, hidup sendiri menjadi kekhawatiran warga. Usia yang sudah tua semestinya mbah Hindun menikmati masa tuanya. Warga diakuinya tidak terus menerus memantau mbah Hindun. Kesibukan dengan aktifitas menjadikan mbah Hindun luput dari pengawasan. 

"Sekarang memang masih sehat. Saya tidak bisa membayangkan kalau sakit gimana, wong tidak ada keluarga. Orang seperti mbah Hindun, semestinya menikmati usia tuanya. Saya harap pemerintah hadir, kasihan mbah Hindun," terang Mamik. 

Diakui Mamik, Kampung kolong 1001 Malam Dupak, Surabaya menjadi sisi lain kota Surabaya. Beragam orang dan profesi dibawah garis kemiskinan dijumpai baik sebagai pengemis pengamen hingga pemulung.

" Disini kurang lebih ada 177 Kepala Keluarga (KK). Hidupnya di kolong tol itu ada 20 KK yang di kampung 1001 Malam ada 140-150 KK. Rata-rata mata pencarian itu pengamen sama pemulung yang perempuan ada yang meminta-minta," ungkap nya. 

Mamik menjelaskan selain warga yang hidup dikampung kolong, juga ada warga lainnya yang menempati tanah kosong sebagai tempat tinggal. Mereka mengais rezeki seadanya. 

"Dulu itu nama kampungnya Tegal. Terus ada salah satu orang yang membantu warga di sini, kemudian dikasih nama Kampung 1001 Malam. Akhirnya terkenal sampai sekarang dengan nama itu," jelasnya.

Kampung 1001 Malam, sudah ada sejak 1999. Kampung ini berada tepat di bawah Tol Dupak penghubung Surabaya-Gresik. Sejumlah warga menempati bilik-bilik yang ada di kolong tol ada juga menempati lahan kosong yang sejak berpuluh-puluh tahun tidak dipakai. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00