Memasuki Tahun Tikus Logam, Masyarakat Kediri Konsultasi Peruntungan

RRI, Kediri: Memasuki tahun baru Imlek ke-2571, dengan shio Tikus Logam, hal ini memicu perhatian masyarakat pada salah satu sarana berupa Konsultasi Peruntungan, yang sengaja disediakan Yayasan Tri Dharma, Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri, pada perayaan Cap Go Meh. Hal ini karena, mereka ingin mengetahui nasib kehidupan baik ataupun buruk pada tahun ini.

"Konsultasi peruntungan, yang kami buka Sabtu kemarin (8/2) dan dilayani oleh Pemuka Agama Khong Hucu Kediri, Prabowo, berhasil tarik minat masyarakat Kabupaten dan Kota Kediri yang mengikuti Perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Ada sekitar 35 orang yang konsultasi di sini, dan umumnya bertanya soal nasib baik dan buruk mereka, terutama rejeki. Namun, kami terpaksa membatasi jumlah yang konsultasi, seiring banyaknya peminat," kata Ketua Yayasan Tri Dharma, Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri, Prayitno Sutikno, saat ditemui RRI Kediri, di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Minggu (9/2/2020). Menurutnya, Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri yang kini berusia 203 tahun, selama ini telah menjadi pusat ibadah umat Khong Hucu. Mereka ini, baik yang berada di wilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, hingga mereka yang datang dari luar Pulau Jawa. "Tempat ibadah ini, adalah satu-satunya di Kediri. Jadi kerap kali menjadi destinasi umat Khong Hucu saat sembahyang. Bahkan, saat kami menggelar Festival Cap Go Meh, bisa dikatakan berlangsung sangat meriah dan semua kalangan hadir," katanya. Prayitno mengatakan, Imlek merupakan pengucapan syukur, karena pada tahun lalu, telah dibimbing dan diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, Yayasan Tri Dharma menggelar Festival Cap Go Meh dengan berpadukan beragam acara menarik. "Untuk ritual pengucapan syukur dan sejumlah acara ini, kami gelar dengan tujuan supaya semua masyarakat tetap rukun dan kondusif, saat menjalani tahun yang akan datang," katanya. Terkait kebiasaan masyarakat saat Cap Go Meh maupun Peringatan Imlek, terang Priyatno, hal ini ada dua versi. Untuk versi pertama, adalah kalangan yang merayakan Imlek sebagai wujud melestarikan budaya, sehingga apa pun latar belakang agamanya, mereka akan memperingatinya setiap tahun. "Kalau versi kedua, adalah kalangan yang memperingati Imlek sebagai umat beragama Khong Hucu. Dengan demikian, mereka secara otomatis selalu merayakan Imlek, lantaran umat ini percaya bahwa peringatan ini merupakan penghormatan terhadap kelahiran Nabi Khong Hucu," katanya. Di samping itu, usai perayaan Cap Go Meh, pada hari Minggu (9/2/2020) tampak sejumlah pelajar dari SMA Kandat Kabupaten Kediri, mengunjungi Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri. "Kami datang ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri, karena tempatnya bagus. Area ibadah ini sangat cocok untuk lokasi pengambilan Foto Album bersama teman sekelas," kata Widia, seorang pelajar berjilbab, asal SMA Kandat, Kabupaten Kediri. Sementara itu, sebagai informasi, Festival Cap Go Meh, merupakan puncak perayaan dari Imlek atau diartikan, ritual sembahyang pada tanggal 15/ di malam bulan purnama pertama dan di awal Tahun Baru Imlek. Sebelumnya, pada Festival Cap Go Meh, yang berlangsung di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Sabtu (8/2), beragam sudut di tempat ibadah ini berhiaskan berbagai ornamen bernuansa merah. Saat itu pula, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar bersama Forkopimda dan para tamu yang datang disajikan ribuan porsi Lontong Cap Go Meh. Mereka juga bisa menonton beragam penampilan atraktif. Mulai dari pertunjukkan Wushu, paduan suara, tari, hingga penampilan Barongsai yang menarik perhatian pengunjung. (ac)

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00