Pengelola Situs Ndalem Pojok Ingatkan Pentingnya Peringatan Sumpah Pemuda

(Dok.ist)

KBRN, Kediri: Pengelola Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno mengingatkan pentingnya memperingati Hari Sumpah Pemuda. Hal ini karena tanggal 28 Oktober 1928, atau 92 tahun lalu, berlangsung Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda.

"Momentum Sumpah Pemuda menjadi salah satu titik balik perjalanan bangsa Indonesia menuju Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945," kata Ketua Harian Situs Ndalem Pojok Persada Sukarno, Kushartono, saat menjadi Narasumber Dialog Pagi RRI Kediri, Kamis (29/10/2020). 

Kushartono menceritakan, dalam rangka memperingati hari bersejarah itu, Situs Ndalem Pojok, Rumah Masa Kecil Bung Karno di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, menggelar upacara yang diikuti oleh beberapa elemen masyarakat.

Dalam agenda ini, Hafizh Lulus Sima Tanaya, siswa klas 2 SMP, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Lalu usai upacara dilanjutkan dengan pemberian santuan kepada anak yatim sekitar Ndalem Pojok.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Situs Ndalem Pojok Kediri, menjelaskan bahwa upacara hari sumpah pemuda ini dimaksudkan sebagai pengingat bagi generasi sekarang bahwa pada tanggal 28 Oktober adalah hari Sumpah Pemuda. 

"Api Sumpah Pemuda adalah api kebersamaan, persaudaraaan. Menanggalkan ego suku, ras, agama, kepercayaan, kepentingan kelompok, golongan dan lain-lain. Kita berdiri bersama bersumpah satu saudara. Saudara satu tanah air, satu bangsa satu bahasa. Seandainya tidak ada Sumpah Pemuda maka tidak akan pernah ada Proklamasi Kemerdekaan Atas Nama Bangsa," katanya.

Berdasarkan catatan sejarah, sebelum lahirnya Sumpah Pemuda, sebenarnya sudah mulai bermunculan organisasi pemuda seperti Perhimpunan Indonesia pada 1908, lalu Tri Koro Darmo pada 1915. Namun sebelum 28 Oktober 1928, para pemuda masih terpecah dalam beberapa organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan lain-lain.

Pada saat memperingati 5 tahun Jong Sumatranen Bond pada 1921, Mohamad Yamin menerbitkan sebuah buku kumpulan sajak yang berjudul Tanah Air. Namun saat itu yang dimaksud Tanah Air oleh Yamin adalah Andalas, Sumatera dan belum termasuk Indonesia.

Dalam masa enam tahun, tumbuh berbagai kesadaran baru di kalangan pemuda, karena musuh yang dihadapi mereka sama, yaitu Belanda. Kesadaran itulah yang menyebabkan mereka berusaha menggalang persatuan dalam sebuah kesadaran baru. 

Sikan melanjutkan, pada 1926 diselenggarakan Kongres Indonesia Muda yang pertama (Kongres Pemuda I). Pada tahun itu belum ada kesadaran untuk melahirkan sebuah sumpah pemuda. Baru pada saat digelar Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928, lahirlah Sumpah Pemuda.

"Isi teks dari sumpah pemuda. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia," katanya.(ac)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00