Tinggalkan Tradisi Ani-ani, Mesin Panen Padi Jadi Pilihan Petani

Suasana panen padi di Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo dengan menggunakan Mesin Combine, Sabtu (17/10/2020). FOTO: Andri Santoso
Suasana panin padi di Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo dengan menggunakan Mesin Combine, Sabtu (17/10/2020). FOTO: Andri Santoso

KBRN, Sidoarjo : Sejumlah petani padi di daerah pedesaan Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur mulai meninggalkan tradisi ani-ani (jawa-red) dan beralih menggunakan teknologi mesin combine untuk memanen padi di lahan sawah.

Biaya kontrak lebih murah dibanding panen tradisional.Sebagian petani, menggarap panen dengan menggunakan teknologi mo­dern ini mampu menekan biaya panen dibandingkan memanen padi secara tradisional atau orang setempat menyebut nya dengan Ani-ani yang sudah berlangsung secara turun-temurun di daerah ini.

Kendati demikian, sebagian petani masih tetap bertahan dengan cara panen lama.Pantauan RRI di Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, pada musim panen akhir tahun 2020 ini, beberapa petani tampak menggunakan jasa mesin untuk memanennya.

Dikatakan Suroto (60) warga setempat, sebagai seorang petani mengaku lebih memilih menggunakan mesin Combine dalam memanen lantaran biaya lebih terjangkau dan mempercepat proses panen.

"Memanen padi dengan mesin Combine ini lebih murah dibanding panen manual. Terus waktu proses memanen juga jauh lebih singkat," kata Suroto ketika ditemui di lahan sawah saat panen.

Dikatakan Suroto, selain susahnya mencari orang buruh memanen di tempatnya, perbandingan biaya panen juga menjadi alasan lebih memilih menggunakan mesin. Di Desa setempat biaya panen borongan dengan hitungan untuk satu petak sawah biayanya sebesar Rp 1 juta, sedangkan kalau tradisional 5 (lima) ratus ribu lebih mahal atau sekitar Rp 1,5 Juta .

"Kalau di borongkan pakai Combine biaya panen untuk satu ancer (bagian) sawah sebesar satu juta rupiah. Kalau dengan cara tradisional biayanya mencapai satu juta lima ratusan," terang Suroto.

Perbandingan waktu yang jauu lebih singkat dan praktis membuat para petani setempat lebih memilih mesin Combine lantaran, hany butuh waktu sekitar 2 jam untuk satu petak sawah dengan ukuran 5 meter kali 640 meter.

"Kalau di borongkan combine hanya butuh waktu paling lama 2 jam, sudah selesai. Kita para petani tinggal mengangkut kerumah," ungkap nya.

Dengan lahan sawah ukuran tersebut, petani padi Desa Wonokasian rata-rata menghasilkan antara 30 sampai 32 Karung atau 2 Ton padi basah. Sebelum di selep menjadi beras gabah padi akan melalui proses pengeringan terlebih dahulu. Lantatan demikian nantinya berat gabah padi dari sawah akan menyusut.

"Yang di Sawah ini masih basah, nanti sebelum di selep padi di keringkan dulu otomatis menyusut beratnya. Dari 2 Ton, setelah kering menjadi antara 1,5 Ton atau 1 Ton tujuu kwintal,"(and)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00