Jejak Listrik di Tanah Raja: Sejak Ada Listrik, Solo Tak Pernah Tidur

KBRN, Surabaya: Bedah buku terkait sejarah kelistrikan di Indonesia digelar di Gedung Graha Pena lantai 4, Jawa Pos News Room, Sabtu (15/1/2022). Buku berjudul “Jejak Listrik di Tanah Raja” tersebut menceritakan sejarah panjang kelistrikan dan kolonialisme di Surakarta pada 1901 hingga 1957.

Penulis buku "Jejak Listrik di Tanah Raja” Eko Sulistyo, mengungkapkan, terkait sejarah kelistrikan di Vostelanden atau wilayah kekuasaan kerajaan di Surakarta yakni : Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran dimulai pada tahun 1901.

“Diketahui sumber-sumber seperti Babad Kutha Surakarta menyebut 1902 listrik masuk di Surakarta tetapi secara formal dan resmi saya menemukan data penandatanganan akte notaris dari pabrik lisrik Solosche Electriciteits Maatschappij (SEM) yang dilakukan 12 Maret 1901, “ungkap Eko Sulistyo.

Menurut Eko Sulistyo, bahwa listrik ini menjadi penting dari penanda jaman , bagian dari modernitas. Artinya listrik tidak sebatas penerangan dan untuk menjalankan industri.

Solo menjadi kota kedua yang beraliran listrik setelah Kota Batavia atau Jakarta. Dari buku Babad Surakarta, listrik muncul di Solo pada 1902. Namun di buku tulisan Eko Sulistyo berjudul : Jejak Listrik Di Tanah Raja, listrik secara formal ada di Kota Solo sejak 1901.

"Perlu waktu penelitian satu tahun untuk mengetahui jejak listrik di tanah Vorstenlanden (Hindia Belanda) ini. Dari sumber Babad Surakarta, listrik  di Kota Surakarta atau Solo ini pada 1902. Namun saya mendapatkan data, secara formal listrik di Solo sudah ada sejak 1901," kata Eko, yang juga anggota dewan komisaris PT PLN ini.

Menurut dia, keberadaan listrik di tanah raja yang didirikan oleh Soloche Electriciteit Maatschappij (SEM)  ini sangat penting, karena menjadi penanda zaman munculnya modernitas. Tidak sebatas hanya untuk penerangan, tapi juga penggerak industri.

Lebih dari itu, ujar dia, listrik yang menurut orang pinggiran kala itu disebut sebagai lampu setan, karena bisa menyala sendiri tanpa diberi upet atau minyak tanah, telah mengubah kultur masyarakat Solo, termasuk masalah keagamaan.

"Artinya, konteks listrik pada saat itu tidak dianggap sebagai teknologi yang bertentangan dengan agama, bahkan melengkapi. Seperti misal masjid besar di keraton  dipasangi listrik, sehingga suara adzan menggema. Ini sangat mendukung," katanya.

Kehadiran listrik di Surakarta, tutur Eko, menjadi bagian dinamika ruang kota. Banyak ruang publik dan jalan-jalan yang gelap saat malam, menjadi bercahaya terang dan melahirkan banyak kegiatan.

"Seperti munculnya budaya lembur, sehingga irama kehidupan menjadi semakin panjang. Banyak usaha buka sampai malam yang membuat Solo dikenal sebagai kota yang tidak pernah tidur. Tidak ketinggalan  emansipasi politik pun meningkat, karena waktu belajar dan membaca juga semakin banyak," kata dia. 

Ada dua hal penting yang dicatat Eko dalam bukunya, yakni keberadaan  listrik di Solo disokong langsung oleh Raja Pakoe Boewono X dan Mangkunegoro VI serta menjadi representasi hubungan antaretnis.

Investasi SEM dalam mendirikan perusahaan listrik di Solo, terdiri atas Keraton Kasunanan yang diwakili Patih Sosroningrat IV, lalu De Kock van Leeuwen mewakili Mangkunegoro, serta komunitas Tionghoa yang diwakili Be Kwat Koen serta wakil firma van Buuren & Co.

Eko dalam buku Jejak Listrik di Tanah Raja juga memberikan gambaran secara gamblang terkait pasang surut perusahaan listrik SEM, dari era kolonial Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, hingga pasca kemerdekaan, yakni dari rentang waktu 1901-1957.

Dalam buku setebal 278 halaman itu, Eko memposisikan SEM  bukan hanya dalam konteks penerangan semata, namun juga dalam konteks politik dan perubahan masa kolonial.

Sementara itu, Direksi PT PJB Gong Matua Hasibuan menyambut baik diluncurkannya buku "Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta".

Menurutnya, buku tersebut adalah buku pertama yang mencoba menjelaskan bisnis listrik. Selama ini, kata Gong, listrik konotasinya bisnis yang keras karena memakai mesin dan transmisinya tegangan tinggi. 

"Ternyata ada bahasa yang lugas. Kita bisa menjelaskan kepada para pelanggan tentang apa yang kita hadapi selama ini," ujarnya. 

"Ini menurut kami sangat luar biasa. Tidak hanya melalui buku. Tapi juga membangun komunikasi yang berbeda dari selama ini," ucapnya. 

Acara bedah buku ini juga menghadirkan beberapa narasumber di antaranya Gong Matua Hasibuan Direksi PT. PJB, juga Prof. Dr. Purnawan Basundoro, SS, M.Hum dari Universitas Airlangga.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar