Warga Kediri Uji Frasa Kemerdekaan Bangsa di Mahkamah Konstitusi (MK)

Warga Kediri Uji Frasa Kemerdekaan Bangsa di Mahkamah Konstitusi (MK).

KBRN, Kediri: Forum diskusi  Rumah Masa Kecil Presiden Soekarno Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno yang terdiri dari puluhan, aktivis pemuda, budayawan, tokoh lintas agama dan berbagai lembaga berencana akan mengajukan uji materi UUD ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Menurut Ketua Harian Situs Persada Sukarno dan Ketua PCTAI (Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia) Kediri, Kushartono, uji materi ini terkait penggunaan  frasa yang benar antara: '17 Agustus 1945 Kemerdekaan Bangsa Indonesia atau 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Republik Indonesia'.

"Uji materi ke Mahkamah Konstitusi ini akan kita matangkan dalam musyawarah bersama pada Rabu, 15 Juli 2020," katanya, dalam siaran pers, di Kediri, Rabu (15/7/2020).

Ditambahkan, Yustyono Fathoni, salah satu aktivis yang mendukung uji materi ini, memang pada umumnya, orang menilai hal ini soal remeh, karena hanya soal istilah, sehingga tak perlu diperdebatkan, apalagi harus dibawa ke Mahkamah Konstitusi.

"Kami hormati saudara kami yang menganggap frasa 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Bangsa Indonesia atau 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Republik Indonesia soal ecek-ecek," kata Yustyono Fathoni.

Ia menilai, langkah tersebut tidaklah main-main, karena bertahun-tahun lamanya sejunlah lembaga telah mengkaji dan berdiskusi masalah ini. Ada pun materi (frasa) yang akan diuji ini terkait, di antaranya UU No. 24 Tahun 2009 Pasal 5 Ayat 1(1) Bendera Negara yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Poin kedua, Peraturan Menteri Pendidikan No. 22 Tahun 2018 Pasal 2 Ayat 1a, misalnya Peringatan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus.

Kemudian, imbuh Yustyono, poin selanjutnya, Surat Edaran Sesneg No B-492/M.Sesneg/TU.00.04/07/2020'Dalam rangka HUT Ke-75 Kemerdekaan RI Tahun 2020 tanggal 17 Agustus 2020' dan Teks Proklamasi Proklamasi,  berbunyi "Kami Bangsa Indonesia...", "Dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia...", dan ..."Atas nama bangsa Indonesia…".

Ada pula, berdasarkan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, "Bahwa Sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, "...Maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya...", "...Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia...", dan Lagu Hari Merdeka"17 Agustus tahun 45 itulah Hari Kemerdekaan kita Hari Merdeka nusa dan bangsa".

Sementara itu, Kushartono melanjutkan, bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki kehalusan dan keluhuran budi. Nenek moyang bangsa Indonesia mengajarkan agar putra-putri bangsa ini kritis dan hati-hati dalam setiap menggunakan kata dan istilah.  

"Kata dan istilah bagi bagi nenek moyang adalah doa atau Asmo kinaryo jopo. Jadi jangan dianggap remeh sebuah istilah, apalagi jika istilah ini menyangkut  kepentingan nasional, sejarah besar kemerdekaan bangsa kita," ulas Kushartono.

Lebih lanjut Kus beralasan, kisah penipuan  manusia pertama didalam surga itu justru menggunakan istilah atau permianan kata-kata lo. Tuhan Berkata wahai Adam jangan engkau dekati pohon terlarang itu. Kemudian  Iblis datang  untuk menipu Adam dengan menggunakan istilah lain buah terlarang, Iblis pakai istilah  buah kuldi. Iblis berkata pada Adam wahai Adam jika kamu ingin langggeng di surga  makanlah buah pohon koldi ini (buah abadi).

"Inikan permainan istilah. Singkatnya  kata dan istilah, tidak bisa dianggap sepele. Kita harus belajar dari sejarah dan nenek moyang," kata Kus yang juga Ketua DPC Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI) Kediri ini.(ac) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00