Disdag Madiun Pasok Kedelai Murah Untuk Pengrajin Tahu Tempe

KBRN, Madiun: Dinas Perdagangan Kota Madiun bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur akan mengadakan operasi pasar kedelai langsung kepada pengrajin tahu dan tempe. Kegiatan tersebut dilakukan menindaklanjuti kenaikan harga kedelai di pasaran.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun, Ansar Rasidi mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan kelurahan untuk melakukan rekapitulasi jumlah pengrajin tahu dan tempe. Termasuk jumlah kebutuhan kedelai. Data akan dihimpun pada Senin (18/1/2021) yang selanjutnya diserahkan ke Disperindag Jatim.

Ansar menyebut, kemungkinan jenis kedelai yang akan dijadikan komoditas operasi pasar adalah kedelai lokal karena stok kedelai impor terbatas. Harganya pun ketika dilakukan operasi pasar dipatok lebih rendah yakni sekitar Rp8.000 per kg dibanding harga di pasaran yang saat ini berkisar Rp10.000 per kg. Sedangkan harga kedelai impor di Kota Madiun sekitar Rp9.000 hingga Rp9.500 per kg.

“Kalau operasi pasar setelah dari provinsi itu mengirim komoditas kedelai, baru kita mendistribusi ke tingkat kebutuhan produsen. Apakah nanti langsung ke produsen atau melalui Bulog kita masih menunggu petunjuk lebih lanjut. Dari situ kita bisa melakukan operasi pasar secara gabungan. Insya allah bulan ini sudah bisa dilakukan operasi pasar,” ungkapnya, Jum’at (15/1/2021).

Terpisah pengrajin tempe di Kelurahan Taman, Kusaini mengaku, jika harga terus naik, maka berpengaruh terhadap produksinya. Biasanya ia mampu mengolah 50 kg kedelai, kini hanya 25 kg. Karenanya ia berharap, operasi pasar kedelai segera terealisasi meski jenisnya kedelai lokal. Sedangkan setiap hari, ia memproduksi tempe berbahan dasar kedelai impor.

“Ya kalau harganya lebih rendah ya nggak apa-apa lah, mau saja. Kemungkinan kualitasnya menurun, karena kalau pakai kedelai impor kan lebih maksimal hasilnya. Istilahnya orang Jawa babar gitu. Karena saat ini harganya naik ya ukurannya saya kecilkan sedikit, dengan harga tetap Rp4.000 per potong,” kata dia.

Kusaini menjelaskan, jika harga kedelai di pasaran tidak stabil ia khawatir, usaha yang telah ia rintis sejak 1999 itu akan gulung tikar. Apalagi selama pandemi ini, produksi tempe yang ia hasilkan menurun drastis.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00