Pengamat : Whisnu-Eri Tidak Ideal, Tak Untungkan Risma

KBRN, Surabaya : PDI Perjuangan hingga kini belum merekom siapa sosok yang layak untuk bertarung di Pilkada Surabaya 2020. Meski demikian berbagai nama santer akan digadang-gadang  menjadi calon walikota.

Kabar yang beredar nama Whisnu Sakti Buana telah mendapat restu. Putra mantan Sekretaris DPP PDI Perjuangan, Ir Sutjipto ini akan diduetkan Eri Cahyadi. Kendati WS membantah dan meminta jangan gaduh. Moch Mubarok Muharam, pengamat politik Lembaga Transformasi (Eltram) justru menilai jika itu terealisasi justru tidak menguntungkan bagi Tri Rismaharini.

Menurut Mubarok selama ini 'perang dingin' kubu Whisnu Sakti (WS) dengan kubu Tri Rismaharini melalui Eri Cahyadi tidak akan terselesaikan dalam waktu singkat. Sementara moment Pilwali Surabaya tidak lebih dari 5 bulan.

Ia menjelaskan  perang dingin kedua kubu ini sudah terjadi bertahun-tahun. Dimana Risma sebagai Wali Kota terkesan tidak memberi peluang Wisnu Sakti berperan sebagai wakil wali kota. Ia menilai walau konflik keduanya tidak muncul dipermukaan.

"Walaupun konflik tidak muncul di permukaan, tapi kan semua pihak tahu kalau ada konflik 'perang dingin'. Kondisi perang dingin tidak bisa dipersatukan dalam waktu sekejap," kata Mubarok, Minggu (5/7/2020).

Banyak yang memperkirakan prestasi Tri Rismaharini harusnya mampu mengawal rekomendasi ke Eri Cahyadi. Apalagi Eri merupakan anak emas wali kota Risma.Jerih payah dan prestasi Risma ternyata sama sekali tidak diperhitungkan DPP.   Ini dibuktikan dengan tidak turunnya rekom anak emas Tri Rismaharini sebagai Cawali Surabaya.

Sedangkan Armuji yang sebelumnya gembar-gembor maju sebagai bakal calon wali kota berpasangan dengan cawali Eri Cahyadi menyatakan mengundurkan diri. Bagaimanakah peluang pasangan Whisnu-Eri di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 9 Desember 2020 mendatang.  

"Pasangan ini akan lemah, karena pada dasarnya kubu Risma dan Whisnu tidak ketemu," ujar Moch Mubarok Muharam. 

Mubarok menilai, seandainya pasangan Whisnu dan Eri Cahyadi ini benar-benar terjadi, maka hal itu hanya untuk membawa kepentingan sesat. Siapapun yang disodorkan Tri Rismaharini, tidak akan mewarisi kekuatan dirinya dalam mengendalikan Pemerintahan Kota Surabaya. Sebab saat ini Whisnu Sakti yang memegang tongkat (rekomendasi)

"Itu seandainya dipaksakan, hanya untuk kepentingan sesaat agar kedua kubu terakomodir dalam pilwali. Kubunya Whisnu menjadi calon wali kota dan kubunya Risma yaitu Eri Cahyadi terakomodir menjadi calon wakil wali kota," tuturnya.

Aktivis '98 lulusan dari FISIP Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, 'kawin paksa' Whisnu dan Eri karena partai berlogo kepala banteng moncong putih itu, tidak ingin kehilangan momen di 9 Desember 2020 nanti.   

"Itu sebenarnya keterpaksaan, karena kedua kubu tidak ingin kehilangan. Itu yang pertama," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00