Dunia Pendidikan dalam Penerapan " New Normal " Orangtua di tuntut (open to change) dalam Pengasuhan anak

Foto ist : Praktisi Pendidikan/ Direktur yayasan Melati Indonesia, Jainul Rahmat Arifin.

KBRN, Surabaya : Dalam menghadapi tatanan kehidupan baru atau New Normal kebijakan yang di ambil Pemerintah pasca ditariknya PSBB. dunia pendidikan di Indonesia mulai beradaptasi dengan berbagai tantangan baru. Hampir seluruh lembaga pendidikan bahkan mulai mengadopsi sistem belajar dari rumah via online. Kondisi ini tentunya memerlukan kesiapan matang dan adaptasi oleh semua pihak yang terlibat, seperti para pengajar, siswa, maupun orangtua agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

Mantan Pemuda Pelopor yang juga praktisi Pendidikan Sidoarjo, Jainul Rahmat Arifin menangatakan, anak dan remaja Indonesia saat ini akan menjadi kohor penduduk usia 35-50 tahun pada 2045 dan menjadi aset bagi Indonesia memetik bonus demografi apabila mereka berkualitas dengan baik.

"Namun, dalam situasi pandemi Covid-19, anak dan remaja dapat menjadi kelompok rentan apabila pengetahuan, sikap dan praktek keluarga dalam protokol kesehatan pencegahan Covid-19 rendah. Ujar Pria yang akrab di sapa Bang Jay."

Menurutnya, perlu suatu solusi terbaik dan komprehensif dari segala sektor untuk tetap dapat menjaga anak dan remaja di masa pandemi saat ini untuk menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Bang Jay mrnambahkan, hidup berdampingan dengan Covid-19 bukan berarti menyerah dan menjadi pesimis. Justru dari situlah menjadi titik tolak menuju tatanan kehidupan baru (new normal) masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali sambil tetap melawan ancaman Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Jainul menegaskan, Peran orangtua mencakup pada pengasuhan serta tumbuh kembang anak dan kepribadian remaja. Ayah milineal, ayah yang terbuka terhadap perubahan (open to change), memahami pengasuhan bersama. Keluarga menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak dan remaja untuk mengawal implementasi tatanan kehidupan baru (new normal). Keluarga yang berketahanan akan dapat mewujudkannya.

“Harapan kami sebetulnya ketika kita memasuki era new normal maka kita ini bisa berpikir yang se-komprehensif mungkin, tetapi sebagai praktisi pelaksana program di lapangan apalagi mewakili keluarga dan juga masyarakat ini bisa mendapatkan solusi protokol yang sifatnya sederhana dan mudah diaplikasikan itu harapan kami " pungkasnya. (jf)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00