Jamhadi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Positif

KBRN, Surabaya: Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan social distancing untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 telah memukul berbagai sektor ekonomi dalam dan luar negeri. Namun demikian, Jamhadi memprediksi pertumbuhan ekonomi memang anjlok tapi tetap positif.

“Saat ini banyak yang memprediksi pertumbuhan ekonomi dengan asumsi pandemi Covid-19 sampai akhir tahun 2020. Ada yang sampai September 2020,” ujar Ketua Aliansi Pendidikan Vokasi Seluruh Indonesia (APVOKASI) Jawa Timur ini, usai melakukan analisa bersama beberapa tim pakar ekonomi, Selasa (14/7/2020).

“Dari analisis kami, pertumbuhan ekonomi Indonesia bakalan kontraksi sekitar 2% walau pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi defisit. Tapi, jika berkepanjangan sampai kurtal I 2021, bisa 1%,” lanjut Jamhadi, yang saat ini juga sebagai Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surabaya.

Untuk pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tidak akan jauh berbeda dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dia menyebutkan, sampai akhir tahun di kisaran 3%, dan pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya 35%.

“Kita tahu ekonomi growth didapat dari 4 indikator. Pertama, dari ekspor-impor. Untuk bisa ekspor-impor harus produksi. Kedua, investasi Pemerintah, lalu investasi swasta, dan keempat ialah konsumsi. Dari 4 indikator itu, yang tidak bisa dihindari ialah konsumsi,” kata Jamhadi.

Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surabaya, Jamhadi

Ketua Yayasan Kedaulatan Pangan Nusantara (YKPN) Jawa Timur ini menjelaskan, konsumsi memegang 50% dari pertumbuhan ekonomi di kala pandemi Covid-19. Sebut saja pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 sebesar 5,5%, Jawa Timur 5,6%, dan Surabaya 6,4%, separuhnya ialah konsumsi.

“Konsumsi makanan dan minuman di kala pandemic berganti jadi obat-obatan dan alat kesehatan. Jika sandang menyesuaikan, dan papan tidak cenderung beli baru kecuai rumah tangganya sangat perlu dan disiapkan sebelum pandemi,” kata pendiri Surabaya Creative City Forum (SCCF) ini.

Di sisi lain, Jamhadi mengapresiasi langkah Pemerintah yang tanggap terhadap dunia usaha dengan memberlakukan new normal, yang kemudian direvisi jadi adaptasi kebiasaan baru. Dalam situasi ini ada yang karantina di rumah secara mandiri, ada pula yang beraktivitas ekonomi di luar rumah.

Dari kebijakan new normal itu, Jamhadi menyebutkan ada peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan dengan mengikuti protokol kesehatan sehingga masyarakat tetap produktif.

“Aktivitas new normal untuk kembali produktif di saat perusahaan omzetnya turun, profitnya turun. Sementara kebutuhan biaya hidup tidak bisa ditekan, bisa jadi meningkat karena orang selalu menjaga imunitas diri,” kata Jamhadi.

Dia menambahkan, kita tidak perlu khawatir berlebihan, harus punya ide dan solusi. Karena, seluruh dunia mengalami hal yang sama, hampir semua negara di dunia,” pungkas CEO PT Tata Bumi Raya ini.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00