BI Ajak Masyarakat Peduli Uang Logam

KBRN, Surabaya: Kecenderungan masyarakat menggunakan uang logam atau koin di Jawa Timur minim. Mereka lebih memilih menyimpan uang koin. 

Data Bank Indonesia, dari outflow uang logam di tahun 2017 sebesar 45,359 Miliar, yang kembali ke BI atau inflownya hanya Rp. 1,237 Miliar atau 2,72%. Tahun 2018 outflow uang logam di Jatim tercatat 41,070 Miliar inflownya Rp. 0,788 Miliar atau 1,91%. Sementara itu di 2019 outflow uang logam sebanyak Rp. 39,077 Miliar, inflownya hanya Rp. 0,164 Miliar atau 0,41%. Jika dihitung, sejak tiga tahun ini, inflow uang logam di Jawa Timur hanya 1,74%. Angka ini lebih rendah daripada nasional yang mencapai 15%.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Timur Difi Johansyah menyebut perputaran uang logam sangat lamban dibandingkan uang kertas. Selain uang logam yang sifatnya tahan lama, BI melihat masih adanya keengganan menggunakan uang koin. 

"Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara lain juga sama. Kalau nasional inflow uang logam 15%. Kalau di Surabaya lebih rendah lagi. Padahal uang logam juga merupakan alat pembayaran yang sah."kata Difi Johansyah, Jumat,  (17/1/2020).

Ia menekankan pentingnya penggunaan uang logam untuk transaksi tak hanya semata-mata karena bank sentral harus mengeluarkan biaya yang besar untuk pencetakan uang logam, namun juga karena efektivitas uang logam sendiri akan menurun bila tak berputar dalam transaksi penjualan masyarakat.

Guna membantu masyarakat menukarkan uang logamnya yang tidak dipakai, BI mengadakan Gerakan Peduli Koin Bank Indonesia dilaksanakan di Surabaya, Minggu, (19/1/2020). Kegiatan ini diikuti 20 bank di Surabaya. Pada kegiatan Gerakan Peduli Koin itu, BI menyiapkan modal kerja Rp.1,7 Miliar dengan target penukaran sebanyak-banyaknya. Selain memberikan pelayanan penukaran uang koin, BI juga menggelar Lomba desain tote bag, bazar bahan pokok, festival buku murah, lomba cerdas cermat SMP, lomba ibu kreatif memasak, dan food bazar.

Ritel Kesulitan Penuhi Kebutuhan Uang Logam

Ritel di Jawa Timur mengaku kesulitan uang receh atau biasa disebut uang logam. Menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Timur, kebutuhan uang logam mencapai Rp. 67,9 miliar per bulan.

Ketua Aprindo Jawa Timur April Wahyu Widarti mengatakan, suplai uang logam dari Bank Indonesia masih jauh dari kebutuhan ritel tapi diakui ada kendala karena keterbatasan perputarannya di masyarakat dibandingkan uang kertas. 

"Permasalahan ini sebenarnya sudah lama, dan sudah Kita bicarakan juga dengan BI. Tapi karena memang perputarannya yang tidak seperti uang kertas, jadi yang kembali ke BI sedikit. Suplai dari BI ke Kita memang jauh dari kebutuhan."jelas April.

April menyebut, untuk memenuhi kebutuhan uang logam sebagai kembalian, Pihaknya sangat terbantu dengan adanya aplikasi pembayaran finansial technologi. 

"Dengan QRIS atau fintech lain, Kita sangat terbantu dalam sistem pembayaran dan tidak perlu repot dengan kembalian."ungkapnya.

Saat ini jumlah ritel yang tercacat sebagai anggota Aprindo Jawa Timur mencapai 4.225 terdiri dari 3.500 minimarket, 500 supermarket, 155 Hypermart, 67 departemen store dan 3 store perkulakan. Dalam satu bulan satu store minimarket membutuhkan Rp. 15 Juta uang logam, satu supermarket membutuhkan Rp. 20 Juta, sedangkan satu Hypermart membutuhkan Rp. 35 Juta uang logam untuk keperluan pengembalian uang belanja konsumen.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00