Stunting Bisa Disebabkan Pernikahan Dini Kata BKKBN

RRI , Madiun: Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun memberikan atensi khusus terhadap masalah stunting. Sebab, saat ini masih ada anak yang mengalami kekurangan gizi sehingga mengganggu pertumbuhan fisik dan mentalnya. Terutama anak di bawah 5 tahun (balita).

Walikota Madiun, Maidi mengatakan, masalah stunting bukan hanya persoalan bagi pemerintah. Namun, pola asuh dalam keluarga juga sangat penting.  Menurutnya, munculnya kasus stunting bukan hanya berkaitan masalah ekonomi keluarga. Tetapi juga edukasi, pengetahuan serta pemahaman orangtua yang kurang terhadap pemberian gizi bagi anak.

“Yang perlu segera saya tindaklanjuti, anak stunting itu akibat dari apa. Kalau itu dari nikah muda, maka akan ada pencegahan. Kalau dia asalnya pada waktu hamil, maka ibu hamil kita perhatikan. Nah kalau sudah lahir, apa yang akan kita lakukan. Paling tidak kita perhatikan masalah gizinya, sekolahnya, komunikasinya. Ini menjadi atensi untuk program-program pemerintah kedepan,” ungkapnya, Jum’at (25/9/2020).

Terpisah, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG(K) saat di Madiun beberapa waktu lalu mengatakan, pengentasan kasus stunting menjadi tugas bersama. Terpenting, edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan agar tidak menikah di usia muda.

“Yang sekarang perlu maindsetnya diberi masukan itu terkait dengan kawin usia muda. Karena stunting itu banyak terjadi kalau yang hamil itu usianya masih anak-anak, belum 20 tahun lah. Menurut saya itu yang perlu ditekankan lagi,” terangnya.

Dr. Hasto menegaskan, pihak rumah sakit juga berperan menurunkan angka stunting di wilayahnya masing-masing.  Seperti diketahui, stunting bukan hanya soal tinggi badan yang lebih rendah dari anak-anak lainnya. Tetapi juga masalah gizi yang berdampak pada kecerdasan anak. Hal itu juga menjadi beban berkepanjangan jika tidak segera diatasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00