Kampus Merdeka Belajar Unair, "Merdeka yang Sebenarnya"

KBRN, Surabaya : Devania Danita (20) tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat mengenang kembali kegiatannya yang dilakoni pada Agustus lalu. 

Untuk pertama kalinya ia dan teman-temannya menjadi pengajar. Mengajar anak-anak di kawasan pinggiran mengenalkan kosakata dan percakapan sederhana dalam bahasa Inggris.

"Kita mengajari Bahasa Inggris. Ternyata tidak semua mendapatkan pendidikan sama kayak kita. Kita ajari membaca, speaking. Ini bacanya gini terus mereka ikuti. Ada kuis terus adek-adek ini dikasih hadiah. Seru juga sih," ungkap perempuan kelahiran Surabaya ini.

Mahasiswi Vokasi Bahasa Inggris Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya ini menyebut apa yang dilakukan dirinya bersama teman-temannya bentuk pengabdian masyarakat.

Selain itu apa yang dilakukan dengan terjun langsung di lapangan menjadikan ia dan teman-teman kampusnya kaya akan pengalaman ditengah pemerintah menggencarkan Merdeka Belajar.

"Secara tidak langsung kita mengasah pembelajaran kita ya. Pembelajaran online kan terbatas. Jadi ini sekalian di praktikkan," terangnya.

Deviana yang sekarang memasuki Semester 5 ini menjelaskan sesuai dengan yang diamanatkan dalam Merdeka Belajar, mahasiswa dituntut harus menumbuhkan sikap mental belajar secara mandiri mengingat saat ini perkuliahan dilakukan secara daring.

Menurutnya ada beragam cara bagi mahasiswa untuk bisa memanfaatkan media belajar yang beragam termasuk dimana saja dan kapan saja.

"Nah belajar online ini ada sisi baik dan buruknya. Kalau online kita bisa persiapkan kita mau ngapain. Kalau offline langsung. Dosen bisa tunjuk langsung. Kita dulu di Tropodo, Sidoarjo, kita percakapan sederhana dalam bahasa Inggris yang mudah di mengerti. Ini sekaligus mengasah bahasa Inggris kita," terangnya sembari tersenyum.

Berbeda dengan Deviana yang lebih memilih berkutat pada dunianya yakni Bahasa Inggris. Hal kebalikan dilakukan Fatiha Putri. Meski sama-sama mengambil kuliah di Fakultas Vokasi Program Studi Bahasa Inggris Unair, Fatiha justru berkecimpung di dunia sosial.

Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR), ia menjadi narahubung bagi masyarakat yang membutuhkan terkait permasalahan bantuan sosial.

"Ingat pertama kali itu menerima laporan pengaduan dari Bapak-Bapak. Ia mempunyai permasalahan di RT, katanya tidak pernah mendapatkan bansos, padahal RW nya baik. Kita sudah melakukan pendataan tinggal kita sampaikan ke Dinsos," ujar Fatiha.

Gadis yang besar di Bandung ini mengatakan platform yang dibuka BEM Unair ini diberi nama Lapor Airlangga. Tindak lanjut dari aduan masyarakat dari laporan yang diterima akan dilakukan verifikasi. Setelah itu, aduan tersebut diberikan kepada pemerintah baik dari kabupaten/kota.

"Memang ini tidak masuk dalam pembelajaran ya. Sedikit banyak ini menjadi bekal. Kan di Merdeka Belajar itu kalau tidak salah, mahasiswa juga dituntut ada proyek kemanusian kegiatan sosial. Nah kita sudah siap sewaktu-waktu ikut Merdeka Belajar," terangnya.

Fatih juga mengutarakan rasa bangganya kuliah di Unair, karena selama kuliah ia mengaku diajar para dosen yang sudah profesional dan sering mendatangkan para praktisi dari luar, sehingga ia merasa antara teori dengan praktik itu selaras.

"Dulu keterima di Unair tidak menyangka. Banggalah masuk kampus negeri. Dosen-dosennya juga profesional," terang gadis berusia 21 tahun ini.

UNAIR Kampus Merdeka Belajar.

Komitmen Universitas Airlangga (UNAIR) mendukung implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebenarnya sudah dilakukan.

Pada aspek internal kampus misalnya, Unair memperbanyak kesempatan bagi mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah lintas program studi. Hal ini sebagai upaya untuk perluasan pengetahuan agar tidak terbatas pada satu ranah ilmu.

"Implementasinya adalah Unair memperbanyak kesempatan bagi mahasiswanya untuk mengambil mata kuliah lintas program studi," kata Rektor Unair, Prof. Moh Nasih.

Tercatat ada sembilan aktifitas yang bisa diikuti oleh mahasiswa sebagai bagian dari implementasi dari MBKM.

Sembilan aktivitas tersebut diantaranya, pertukaran mahasiswa, praktik magang/proyek industri, proyek di desa, penelitian/riset, wirausaha, proyek independen, mengajar di satuan pendidikan, proyek kemanusiaan dan pembelajaran lintas program studi/lintas rumpun ilmu.

"Unair sesungguhnya sudah sangat lama mengimplementasikan beberapa hal yang berkaitan dengan MBKM. Dulu jika ada mahasiswa yang menjuarai beberapa bidang tertentu sudah kami hitung dengan SKS. Mahasiswa yang mengikuti konferensi atau student exchange tidak perlu lagi KKN. Hal hal ini sejatinya sudah termasuk bagian dari implementasi dari MBKM," ujar Nasih.

Sedangkan untuk pertukaran mahasiswa, Nasih menjelaskan ada banyak mahasiswa dari luar Unair yang mengikuti perkuliahan kampus setempat. Bahkan ada beberapa mahasiswa kampusnya juga mengikuti perkuliahan di luar negeri juga.

Nasih mengemukakan secara nasional program MBKM ini administrasi dan mekanismenya harus di Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Namun, Unair memiliki kebijakan untuk melakukan aktivitas MBKM secara internal. 

"Sehingga tidak harus melalui Jakarta dengan format yang sudah kami tetapkan. Karena berkaitan dengan waktu untuk mencapai 20 SKS di berbagai macam tempat kalau mengikuti aturan dikti sangat terbatasi," katanya.

Pembelajaran lintas studi ini dikatakan Nasih, sudah dilakukan sejak awal semester. Sehingga tidak ada sekat antar prodi. Hal-hal tersebut sekaligus sebagai bukti bahwa Unair sudah melaksanakan MBKM dengan sebaik-baiknya. 

Dari hal itu, dengan penilaian indikator dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dijelaskan Nasih menunjukkan Unair telah melampaui dari batas penilaian.

"Unair mencapai poin pencapaian 74, dengan poin pertumbuhan 673, dengan posisi tinggi 10%, dan hal ini kalau dari kelompok PTNBH, Unair menempati posisi pertama," papar Prof. Nasih.

Disis lain, Wakil Rektor Bidang Akademik, Mahasiswa, dan Alumni Unair Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menambahkan bahwa program MBKM ini pada waktu sebelumnya sebagian sudah dilaksanakan. 

"Kami mengembangkan inter personal education, terutama bidang kesehatan dan hospital base di RSUA sejak empat tahun lalu. Modul-modul yang sudah kami kembangkan dari program ini sudah diikuti oleh berbagai prodi kesehatan sebelum MBKM berjalan," ujar Prof Bambang.

Pihaknya juga mengembangkan dalam Community Base yang sudah berjalan dua atau satu tahun, dan dikembangkan lagi multidisiplinnya hingga memiliki 12 modul.

"Dengan program MBKM kami menjadi lebih mudah menerapkan lebih banyak SKS untuk ditempuh di luar kampus," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00