Wawancara Dengan Guruh Dimas Nugraha Penulis Buku Gombloh

KBRN, Surabaya : Sosok musisi Gombloh, sang penyanyi dengan mahakarya lagu 'Kebyar-Kebyar' bagi generasi X sudah pasti sangat tahu. Tapi bagi genarasi Y atau Z yang disebut milenial mungkin hanya sebagian saja.Gombloh adalah musisi asal Surabaya yang berjiwa nasionalis yang suka kesederhanaan. Ia mampu menangkap segala persoalan lewat lagunya. Ada banyak momen dimana ia tampak filosofis, melankolis, religius, tak jarang pula ia menuangkan kritik keras dalam balutan lirik-liriknya yang lugas. Ia pun tahu pada saat mana ia berkompromi dan mencoba realistis, yang mengantarkannya pada puncak popularitas.Sebagai musisi, Gombloh tak segan bergaul dengan orang-orang pinggiran, tak terkecuali para Pekerja Seks Komersial. Dari pergaulannya dengan lingkungan prostitusi, Gombloh menangkap sejuta ironi yang banyak terungkap dalam lagu-lagunya. Secara terang-terangan Gombloh mengungkapkan bahwa tujuan utamanya adalah Revolusi. Revolusi Melankolis, Revolusi Cinta.Mengenai siapa dan bagaimana Gombloh. RRI Surabaya lewat acara rumah kata di Pro2 Anne Riangga mewawancarai langsung penulis buku "Revolusi Cinta Dari Surabaya" Guruh Dimas Nugraha yang mengupas tuntas tentang penyanyi fenomenal itu.Dalam buku ini diungkap sosok Gombloh yang begitu besar. Gombloh sebagai pribadi lengkap: filsuf, sastrawan, serta pekerja kemanusiaan yang bernyanyi dengan bahasa sastra yang kuat. Sama halnya ketika Gombloh mengekspresikan gejolak hatinya dengan kalimat legendaris: "Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat".

Anne : Mas. Nama Guruh Dimas Asmorogeni itu nama pena ?

Guruh : Bisa begitu. Tapi nama itu juga diberikan oleh penggemarnya Gombloh untuk saya.

Anne : Terus nama panggilannya apa ? Guruh ? atau Dimas ?

Guruh : Kadang ada yang panggil Guruh , tapi ada juga yang panggil Nugraha. Sama saja mba !

Anne : Saya ingin tahu. Apasih yang jadi alasan mas Guruh menulis buku Gombloh "Revolusi Cinta Dari Surabaya" ?

Guruh : Kalau kita bicara tentang Gombloh kita tidak bicara tentang musikalitasnya saja. Tetapi Gombloh ini pekerja kemanusiaan, Gombloh ini dalam musiknya tidak hanya tentang Cinta atau jenaka, tapi juga tentang cinta tanah air, lagu tentang kepedulian sosial, lagu tentang lingkungan hidup juga menceritakan tentang masyarakat masyarakat pinggiran.

Anne : Jadi mas Dimas sangat suka karya Gombloh ya ?

Dimas : Ya! Saya suka lagu Gombloh dari SD. Waktu itu Bapak saya bawa dua kaset Gombloh. Saya dengarkan kok enak. Bagus gitu. Waktu saya lihat covernya. Kok nga cocok sama lagu lagunya he he...ganteng ? Enggak ! Gagah juga enggak. Tapi kok lagunya enak sekali. Terus tahun 2011 saya bikin band yang bawain lagu lagunya Gombloh. Dari situ saya mendalami karakter musiknya Gombloh untuk band saya.Saya pun mewawancarai teman-temannya Almarhum Gombloh satu-satu. Dari sana saya tahu Gombloh sangat peduli. Setiap habis conser ia menyisihkan sebagian besar uangnya untuk tukang beca, pengemis untuk kaum pinggiran sehingga tahun 70an dia dijuluki sinterklas di Balai Pemuda Surabaya.Ia juga membagikan uangnya ke PSK di Dolly waktu itu. Tujuannya untuk mengentaskan mereka dari sana. Dari Dolly juga banyak karya diciptakan seperti "Jamilah dari lorong gelap" "Tiwul blues" "Lony pelacur-pelacurku" inspirasi Gombloh banyak lahir disana.

Anne : Lalu mas Dimas menulis tentang Gomblog "Revolusi Cinta dari Surabaya" ini karena memang kecintaan terhadap Gombloh, atau memang punya bakat nulis ?

Dimas : ya memang selain kecintaan saya, saya memang juga suka nulis. Kan kuliah sastra di Sastra Indonesia Universitas Airlangga anggkatan 2007.Waktu itu saya nulis di blog. Kok banyak yang respon. "Bagusnya ini dibuat buku saja" kata mereka. Jadi ya saya buat. Terus saya sodorkan ke pak Aribowo di penerbit airlangga university press. Begitu !A

Anne : Tapi sebelumnya mas Dimas sudah punya karya yang lain ?

Dimas : Pernah! Pernah menerbitkan buku puisi. Terus sama theater Gapus. Ya itu. Nah Gombloh ini karya saya yang dibuat tunggal.

Anne : Apa yang menariknya karya almarhum Gombloh ?D

Dimas : Kalau pernah belajar filologi Gombloh itu sangat memperhatikan sastra lama jawa. Beberapa lagu dibuat dalam satu album itu dari sastra jawa lama dibuat Gombloh dalam gaya modern. Luar biasanya Gombloh semua itu bisa dinikmati semua kalangan. Di album Sekar Mayang ituAda lagu "Hong wilaheng" dari serat Mangkunegara IV ada serat Sekaring jagat dll.

Anne : Wah menarik juga ya. Oke mas Dimas terima kasih sudah wawancara dengan RRI Surabaya. Semoga bukunya Gombloh "Revolusi cinta dari Surabaya" mampu menginspirasi kita semua seperti almarhum. Sukses mas Dimas !

Dimas : Sama sama. Terima kasih mba Anne.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00