Hutan Gundul, Ancaman Nyata Kearifan Lokal 'Sungkok Resam'

Sungkok Resam

KBRN, Bangka : Penambangan timah ilegal yang marak di Pulau Bangka mengakibatkan tak sedikit hutan yang rusak parah.

Ekosistem di lahan-lahan itu pun terkena imbasnya. Hewan, tumbuhan dan sebagainya seakan tak miliki tempat hidup atau tempat berlindung lagi yang aman.

Bahkan, kearifan lokal masyarakat Bangka juga ikut-ikutan terancam, salah satunya dialami oleh mereka yang menggeluti atau membuat Sungkok Resam atau Kopiah Resam, kerajinan khas masyarakat Pulau Bangka turun-temurun.

Seorang pengrajin Sungkok Resam, Syamsudin menyampaikan keluhan susahnya untuk mendapat pohon atau batang resam, sebagai bahan baku untuk membuat Sungkok Resam itu.

"Hutan di mana-mana sudah gundul, kebun sawit skala besar banyak, jadi resam yang pengrajin seperti kami butuhkan itu sulit didapat," kata Samsudin kepada rri.co.id, di Sungailiat, Sabtu (25/6/27)

Untuk mendapatkan pohon resam ini, Syamsudin dan pengrajin lainnya harus mencari sangat jauh masuk ke dalam hutan yang masih bagus.

"Tidak seperti dulu 10 tahunan lalu, sekarang kita cari hutan yang dalam masih agak bagus kan. Itu pun kadang dapat terkadang pun tidak dapat apa-apa walaupun sudah mencari berhari-hari," ujarnya.

Sulitnya memperoleh batang atau daun resam tersebut membuat produktifitas para pengrajin Sungkok Resam sangat menurun. Bahkan diungkapnya banyak yang sudah gulung tikar.

"Yang nyerah banyak, Saya juga paling bisa produksi 1 buah seminggu untuk yang berkualitas halus, tapi untuk yang agak kasar kualitas sedang bisalah 2 atau 3 kopiah yang bisa dibuat. Karena sekarang ini benar-benar susah bahan, mau apa lagi," keluh pria paruh baya ini.

Samsudin berharap ke depan hutan sekitar tempatnya kembali hijau sedia kala lewat berbagai upaya penghijauan yang dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat. Kalau tidak kondisi ini dikhawatirkan akan mengancam hilangnya eksistensi salah satu kearifan lokal di Pulau Bangka tersebut.

"Moga kembali seperti dulu, hutan hijau kami pun bisa tenang merajut kopiah resam, dapur bisa ngepul. Kalau keadaan seperti ini terus berlangsung bisa-bisa hilang kopiah khas kita gara-gara tak ada bahan membuat," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar