Pemuda Inspiratif; Dari Dongeng Perdamaian Hingga Cegah Stunting

KBRN, Sorong : Terinspirasi dari kalimat bijak 'Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya', dua pemuda asal Indonesia bagian timur memulai langkah untuk menebar kebaikan, hingga akhirnya terpilih sebagai penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia yang diselenggarakan oleh Astra International, kedua pemuda dimaksud yakni Eklin Amtor de Fretes asal Ambon, Provinsi Maluku, sebagai penerima apresiasi untuk bidang Pendidikan, dan Johan A. Rahman asal Sorong, Papua Barat yang berhasil lolos sebagai nominasi 12 besar untuk dedikasinya dibidang kesehatan, tentu apresiasi ini diberikan karena bersama pemuda dari berbagai daerah lainnya di Indonesia telah menghibahkan tenaga, pikiran dan tentu materi tanpa mengenal lelah memberi manfaat bagi orang-orang disekitar.

Bagi sebagian besar masyarakat di Ambon tentu sudah tidak asing lagi dengan Eklin Amtor De Fretes atau kerap disapa Kak Eklin, Pria berkelahiran di Masohi 19 November 1992 ini bersama boneka Dodi, Eklin berkeliling untuk menebar kedamaian dengan berdongeng, bukan tanpa sebab Eklin dan 'Dodi' mengunjungi berbagai tempat untuk menyampaikan pesan perdamaian, hal ini selaras dengan sejarah di Maluku 20 tahunan lalu yang dilanda perpecahan dan kerusuhan.

" Bagaimana awal Eklin memulai misi perdamaian dengan berdongeng?" tanya saya memulai obrolan melalui saluran telepon selular.

" Awalnya ditahun 2016 saya mengikuti training pendidikan yang didukung oleh PBB dan UNESCO, selepas kegiatan training itu saya mendapat akreditasi sebagai trainer nasional, kami para trainer diminta membuat training serupa, karena membuat kegiatan sendiri, maka ditahun 2017 saya membuat perkemahan 'Youth Interfaith Peace Camp' dimana pesertanya berasal dari lintas iman dan latar belakang, dari sinilah tercetus ide dongeng damai sehingga hadirlah boneka diberi nama Dodi yang merupakan akronim 'dongeng damai', selain Youth    Interfaith    Peace    Camp,    dan Dongeng Damai kami juga membuat tempat Belajar    di     Rumah    Dongeng    Damai" cerita Eklin mengawali obrolan kami, Rabu (16/12).

" Mengapa memilih untuk berdongeng?" tanya saya kembali.

" Menurut saya ini cara yang efisien, karena setelah konflik yang terjadi 20 tahunan yang lalu, terjadi segregasi wilayah sehingga kehidupan antara umat beragama menjadi terbatas dan sempit, melalui diskusi dan dongeng akan terbangun satu pemahaman diantara umat beragama, mengingat konflik tersebut telah menjadi cerita yang diwariskan turun temurun dan menyebabkan sekat pembatas diantara warga" terang Eklin yang bercerita sambil sesekali terdengar Eklin menyapa teman-teman tim yang berpamitan pulang setelah bekerja seharian guna menyiapkan bingkisan kado natal untuk dibagikan kepada Anak Dengan HIV-AIDS di Ambon - Maluku.

Dengan gagasan dongeng maupun rumah dongeng lanjut Eklin tidak serta merta diterima dengan baik oleh warga yang dikunjungi, hal ini disebabkan oleh Segregasi Wilayah yang meluas menjadi segregasi pemikiran, oleh sebab itu tanpa mengenal lelah dan menaruh kepercayaan bahwa apa yang dilakukan dengan tulus tidak akan sia-sia, alhasil mulai banyak yang tertarik, dan tidak hanya itu melalui komunitas jalan merawat perdamaian (JMP) setiap anggota diberi kebebasan untuk membuat kegiatan lintas iman dengan cara dan talenta juga karya yang dimiliki.

" Awalnya memang ditolak, tapi kemudian saya diterima, dongeng inipun tidak hanya disaksikan anak-anak tapi juga berbagai kalangan usia, dalam setiap kunjungan pun kami berbagi tugas, yah mengalir begitu saja" cerita Eklin yang kini masih aktif mendongeng keliling baik dari gereja maupun masjid.

" Bagaimana aktivitas mendongeng selama pandemi virus corona? dan apa saja isi dongeng yang disampaikan?" tanya saya penasaran terhadap aktivitas mendongeng.

" Selama Pandemi tetap aktif, bahkan saya mendongeng secara virtual di media sosial, di Instagram juga dapat disaksikan di @kak_eklin, beberapa kali mendongeng di mimbar-mimbar gereja, saat ramadhan saya membuat dongeng Ramadhan, juga anak-anak korban kebakaran, dan untuk menjelang Natal ini, kami membuat kegiatan berbagi kado natal untuk anak-anak dengan HIV AIDS, untuk materi selain nilai-nilai perdamaian kita juga sisipi dengan ajakan menjaga alam, juga materi-materi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan" lanjut Eklin  menceritakan aktivitas selama pandemi COVID-19.

Dalam kurun waktu 3 tahun Eklin berkecimpung untuk mendongeng menepis segregasi wilayah hingga pemikiran ditengah masyarakat, harapannya agar pil pahit yang pernah terjadi di kota musik ini tidak semakin berkepanjangan sehingga tetap mewariskan trauma turun temurun menyisakan kecurigaan, permusuhan, dan perpecahan ditengah pela gandong satu darah Maluku.

Berbeda cerita Eklin dengan kegiatan dongeng damainya, Johan A Rahman, nominator SATU Indonesia menceritakan perjalanannya kedaerah terpinggirkan di Papua Barat untuk mengedukasi warga agar terlepas dari ancaman stunting bahkan gizi buruk, Johan memulai perjalanannya melalui program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAS) sebuah program dibawah Kementerian PUPR dan lintas Kementerian lainnya, diawali pada bulan September tahun 2018 yang lalu.

"Saya mengikuti program SATU Indonesia untuk kategori program sosial dibidang kesehatan khususnya dalam membantu menangani kasus stunting, dimana masyarakat pinggiran dan daerah terpencil di Papua Barat masih ditemukan adanya kasus stunting, bahkan kita tahu bersama kita di Indonesia, kasus stunting masih sangat tinggi, dimana Indonesia berada diurutan keempat dunia" cerita Johan Rahman, membuka percakapan, Johan mengaku kegiatan yang dilakukan bersama program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAS) dimana dirinya bekerja.

" Daerah mana saja yang sempat didatangi untuk kegiatan edukasi pencegahan stunting?" tanya saya mencoba menelisik, sebab sayapun pernah ditugasi untuk melakukan liputan di Kabupaten Sorong maupun di Kabupaten Tambrauw beberapa tahun yang lalu.

" Kalau program PAMSIMAS itu ada di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Tambrauw, kalau bagian dari Program PAMSIMAS untuk stunting dilakukan di Sorong Selatan, sehingga saya mencoba untuk membantu mengedukasi warga di Distrik Klamono dan Makbon yang merupakan wilayah Kabupaten Sorong, sedangkan di Tambrauw Ada 19 kampung dari beberapa Distrik yang pernah kami datangi, diantaranya distrik Moraid, Yembun, Bikar, Mega dan Kwoor" papar Johan saat ditemui di Sorong, Selasa (22/12).

" Dalam program edukasi pencegahan stunting tadi disebutkan dengan memanfaatkan pangan lokal, apa saja dan mengapa bahan lokal?" tanya saya kemudian.

" Jadi begini, dari sisi ekonomi masyarakat kita dipedesaan pelosok ini terbiasa dengan makanan pokok seperti betatas, kasbi, keladi, sayur-sayuran, ataupun daging rusa juga ikan bagi masyarakat dipesisir pantai, namun sayangnya stigma masyarakat makanan siap saji diperkotaan dianggap lebih bergizi, seperti Mie instant ataupun makanan lainnya. padahal ini keliru, sehingga saya berpikir mindset ini harus diubah, oleh sebab itu saya mengajak warga kembali untuk mengkonsumsi pangan lokal yang banyak tersedia dialam dan mudah disediakan warga dengan berkebun" ungkap Johan.

"Padahal kalau mereka (warga,red) dapat mengolah, memanfaatkan dan mengkonsumsi pangan lokal jauh lebih baik dan bergizi, andaikan harus mendatangkan dari sorong pasti jauh lebih mahal, belum transportasi untuk bawa itu bahan makanan, pastinya akan ribet, oleh sebab itu saat saya turun ke kampung, menjadi kesempatan untuk mengedukasi warga supaya mengkonsumsi bahan pangan yang tersedia dikampung" tambah Johan menjelaskan mindset warga.

Johan mengakui hingga saat ini masih dibutuhkan pendampingan agar kesadaran warga untuk mengkonsumsi pangan lokal guna mencegah stunting tetap dipertahankan, selain mengedukasi warga untuk mempertahankan konsumsi bahan pangan lokal, Johan bersama PAMSIMAS juga mengedukasi perilaku hidup bersih dan sehat.

Kasus stunting di Papua Barat terbilang cukup Tinggi, dimana berdasarkan data Global Nutrition Report tahun 2018, sekitar 150,8 juta atau 22,2 persen balita di dunia mengalami stunting, kasus stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen, dan khusus di Papua Barat 27,5 persen, oleh sebab itu berbagai langkah dan upaya dilakukan agar kasus stunting tidak terus bertambah.

Dua potret pemuda, Eklin De Fretes asal Ambon - Maluku dan Johan Rahman asal Sorong - Papua Barat merupakan sedikit dari banyaknya pemuda di Indonesia yang menghibahkan diri mereka untuk dapat bermanfaat bagi orang lain, harapannya kedepan agar pemuda inspiratif terus lahir, tumbuh dan berkembang diseluruh Indonesia sebagai tumpuan kemajuan bangsa.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar