Malaysia Perpanjang Lockdown, Pasokan Kebutuhan Pokok di Perbatasan dari Pontianak

KBRN, Kapuas Hulu : Pedagang di perbatasan Republik Indonesia-Malaysia wilayah Badau Kapuas Hulu Kalimantan Barat terpaksa membeli kebutuhan pokok dari kota Sintang dan Pontianak dengan biaya distribusi yang lebih besar karena kerajaan Malaysia kembali memperpanjang lockdown wilayah hingga 1 agustus 2021.

Salah seorang Pedagang diperbatasan Indra Abdurahman menjelaskan besarnya biaya distribusi barang kebutuhan pokok dari kota Pontianak menuju wilayah perbatasan menyebabkan para pedagang terpaksa membebankan biaya angkutan ke pembeli dengan menaikan harga barang sehingga harga kebutuhan pokok diwilayah perbatasan saat ini melonjak.

“Harga kebutuhan pokok diwilayah perbatasan khususnya di Badau memang berbeda semenjak Malaysia menerapkan lockdown, karena sekarang semua pasokan dari Pontianak dan Sintang,” Katanya kepada RRI, Rabu (20/1/2021).

Sementara itu, Pelaksana Tugas Camat Badau Kabupaten Kapuas Hulu Edy Suharta mengatakan sebelumnya Malaysia menerapkan lockdown wilayah suplai kebutuhan pokok masyarakat diperbatasan masih tergantung dari Malaysia karena sulitnya mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari asal Indonesia.

Ia mengatakan walaupun demikian saat ini kebutuhan pokok diperbatasan selalu tersedia karena ada pasokan dari kota Pontianak dan kota Sintang walaupun harga sedikit mahal jika dibandingkan pasokan kebutuhan pokok dari Malaysia diantaranya seperti harga telur ayam, daging ayam, daging sapi dan gas LPG.

“Sebelum pandemi daging sapi pasokan dari Malaysia Rp 85.000- Rp 90.000/kg, saat ini pasokan dari Indonesia dijual dengan harga Rp 130.000-140.000/kg, untuk daging ayam sebelumnya  Rp 30.000/kg saat ini mencapai Rp 50.000 perkilogram bahkan lebih, telur ayam saat dipasok dari negara Malaysia dijual dengan harga Rp 1000 perbutir, saat ini dipasok dari Indonesia dijual dengan harga Rp 1.500/butir,” Ujarnya.

Edy Suharta selain telur,daging ayam dan daging sapi, gas LPG 3 kilogram di kecamatan Badau juga mengalami lonjakan harga yakni Rp 50.000 dari harga eceran tertinggi  sebelumnya 29 ribu karena ketersedian gas LPG di pangkalan tidak mecukupi kebutuhan masyarakat setempat sehingga sebelum pandemi masyarakat perbatasan banyak yang beralih menggunakan LPG Malaysia karena mudah didapatkan dan lebih murah. (Yos)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00