Serangan Hama Tanaman Lada, Petani di Perbatasan Sintang Belum Temukan Cara Membasmi Hama

KBRN, Sintang: Serangan hama tanaman lada di Wilayah Perbatasan Kabupaten Sintang Kalimantan Barat dengan Negara Malaysia hingga kini belum ditemukan solusi untuk membasmi hama tanaman ini sehingga sebagian besar para petani lada mengalami kerugian besar.

Salah satu petani lada yang saat ini sedang menjabat sebagai Pj. Kapala Desa Semareh Kecamatan Ketungau Tengah Tanggi mengatakan dari luas lahan perkebunan lada satu setengah hektar miliknya dapat panen tidak lebih dari sepuluh persen dari jumlah tanaman lada sedangkan biaya Pemelihraan tidak seimbang dengan hasil jual, satu kali musim panen memerlukan biaya pemeliharaan mencapai dua puluh hingga tiga puluh juta rupiah.

“Banyak warga meninggalkan kebunnya karena melihat kondisi tanaman setiap hari ada yang mati, diganti dengan tanaman baru juga mati, jadi para petani merasa putus asa, dalam hal ini kami sangat mengharapkan bantuan dari Pemerintah atau penelitian para mahasiswa agar hama tanaman ini dapat segera dibasmi,” Kata Tanggi, Kamis (22/10/2020).

Sementara itu Camat Ketungau Tengah Petrianus mengatakan dampak serangan hama tanaman lada sangat dirasakan para petani karena selama ini tanaman lada menjadi komiti unggulan para petani yang belajar merawat tanaman dari turun temurun, kondisi seperti ini memang sangat memerlukan uluran tangan dari para cendikiawan untuk menemukan solusi agar tanaman lada kembali subur.

“Petani memang itulah keluhannya akibat serangan hama tanaman penghasilan jauh menurun, bukan hanya harga yang anjlok, hasil panen juga sedikit,” Kata Petrianus.

Dikatakan Petrianus para petani telah berupaya mengganti tanaman lada yang mati dengan tanaman yang baru, namun masih juga ada yang mati dengan kondisi yang sama, berpindah lokasi lahan atau mengganti dengan tanaman karet memerlukan biaya tinggi dan waktu lama, sehingga warga ada yang mulai menanam jenis tanaman sayur mayur yang dapat cepat panen untuk dijual kembali.(Tin)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00