PMK Merebak, Harga Ternak Sapi di Sintang Diprediksi Melonjak

KBRN, Sintang: Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang menggelar rapat bersama para pedagang dan Organisasi Perangkat Daerah– OPD kabupaten Sintang  guna menyikapi persoalan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Dokter Hewan (drh) Sriyanto dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang mengatakan sulit mencegah masuknya PMK ke Sintang, namun rapat ini untuk mengantisipasi maksimal yang dilakukan oleh peternak maupun para pengusaha bidang peternakan di Sintang.

“ Menjelang Idul Adha akan terjadi banyaknya hewan ternak terutama sapi di datangkan dari luar kota Sintang maka, perlu ada edukasi untuk peternak dan pedagang misalnya mencuci tangan rutin dan menjaga sanitasi kandang,” katanya.

Sementara untuk para pengusaha peternakan tidak dulu melakukan transaksi dengan memasukan Sapi maupun kambing dari luar sebab ini sangat rawan sekali, apalagi hingga saat ini sapi masih dipasok dari luar daerah yang terpapar.

“kemampuan untuk menahan lajunya penyebaran ini kuncinya berada di Pedagang dan Masyarakat, artinya harus taat SOP paling tidak upaya ini akan memperlambat hingga Idul Adha,” ungkapnya.

Sementara salah seorang pungusaha daging sapi di Sintang Fitri mengatakan, selama ini sapi dipasok dari Pontianak dan kubu raya, sapi sapi ini berasal dari jawa, Ia melakukan pasokan hingga belasan ekor perbulan.

“ Sapi sapi ini dari pelabuhan langsung, dibawa ke Sintang,” ungkapnya.

Fitri mengkhawatirkan akan terjadi lonjakan harga sapi yang tinggi terlebih menjelang Idul Adha ini akan banyak permintaan sapi kurban. Kondisi ini disebabkan sapi di Sintang tidak cukup, datangnyua sapi dari luar untuk mengimbangi harga sapi lokal.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Ir Gultom mengatakan sebenarnya Indonesia sudah dinyatakan bebas Virus PMK ini sejak tahun 1982 namun tahun 2022 ini merebak kembali.

Tanda-tanda hewan ternak terpapar PMK, diantaranya keluar lendir hingga berbusa dari mulut dan menetes hingga ke hidung biasanya disertai demam tinggi antara 39 sampai 41 derajat, Jika terdapat tanda-tanda itu pada hewan ternak, Sriyanto  meminta para peternak untuk mengisolasi hewan yang terpapar kemudian melaporkan kepada petugas atau Dokter hewan terdekat. (fik)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar