Harga Cabai di Sintang Turun, Masyarakat Terbantu

KBRN, Sintang: Turunnya harga cabai dari kisaran seratus ribu hingga dua ratus ribu rupiah perkilogram di kota Sintang Kalimantan Barat akhir tahun lalu, kini menjadi enam puluh hingga delapan puluh ribu rupiah per kilogram sangat membantu meringankan anggaran ekonomi rumah tangga masyarakat Kabupaten Sintang baik bagi konsumsi keluarga maupun usaha rumah makan.

Salah seorang warga Sintang Ana mengungkapkan harga cabai dibawah seratus ribu rupiah jauh lebih murah dan terbantu jika dibandingkan lonjakan harga cabai yang pernah berkisar diatas seratus ribu rupiah pada tahun lalu.

“iya tadi saya beli ada yang enam puluh, ada yang delapan puluh ribu rupiah per kilogram, bervariasi sih...tergantung jenis cabe dan buah segarnya,” kata Ana.

Sementara itu di Wilayah perbatasan khususnya Kecamatan Ketungau Hulu harga cabai relative stabil, jika terjadi perubahan harga tidak terlalu berpengaruh terhadap daya beli masyarakat karena mayoritas masyarakat menanam sendiri cabai untuk konsumsi keluarga.

Camat Ketungau Hulu Kabupaten Sintang Kalimantan Barat Jamhur mengatakan pembeli cabai di Wilayah Perbatasan Kecamatan ketungau Hulu biasanya masyarakat yang memiliki usaha warung makan, saat ini harga cabai bervariasi berkisar antara delapan puluh ribu rupiah per kilogram.

“Kalau di Perbatasan ini se kenaikan harga tidak terlalu berpengaruh terhadap daya beli karena untuk kebutuhan cabe, masyarakat di sini biasa menanam sendiri untuk kebutuhan konsumsi keluarga,” kata Jamhur, Jum’at (28/1/2022).

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Sintang Arbudin melalui plt. Kabid Perdagangan Darkum mengatakan saat ini harga jual cabai sudah turun dibandingkan akhir tahun lalu, memang sempat terjadinya lonjakan harga akhir tahun lalu dikarenakan mayoritas petani cabai di Kabupaten Sintang mengalami gagal panen.

“masyarakat jangan terlalu resah harga cabai tinggi, karena tetap akan kembali normal, dokondisikan memang pada faktanya para petani lagi gagal panen, tingginya permintaan maka naiklah harganya sementara pasokan ke Sintang juga kurang, para petani mengalami hal yang sama,” jelas Darkum.

Darkum menjelaskan Disperindagkop dan UKM melakukan pantauan harga kebutuhan pokok, barang penting dan barang strategis di sejumlah pasar tradisonal di kabupaten Sintang dilakukan secara rutin. (Tin)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar