A.M Iswadi : Solusi Adaptasi dan Mitigasi Menghadapi Situasi Banjir.

KBRN,Sintang : Sekretaris Jendral Forum Komunikasi Masyarakat Sipil (FKMS) Kabupaten Sintang, Ade Muhammad Iswadi mengatakan daerah tutupan berkurang dan alih fungsi lahan tentu ada penyebabnya. Namun jika ada yang mengatakan sawit dan aktivitas PETI sebagai penyebab utama perlu juga dikaitkan dengan pengalaman Sintang banjir tahun 1963 yang jauh lebih besar tidaklah disebabkan oleh sawit dan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) yang belum ada pada saat itu.

"Berkurangnya chatchmen area (Daerah Tangkapan Air/DTA) seiring terjadinya deforestasi dan alih fungsi lahan karena Sintang yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas diklaim sebagai wilayah paling terpengaruh  kiriman dari 3 sub DAS, yaitu Kapuas Hulu, Melawi, dan Ketungau," kata Ade M.Iswadi, Selasa (30/11/2021)..

Ade M.Iswadi menjelaskan Berdasarkan data yang dihimpun pihaknya , ketiga sub DAS tersebut memiliki DTA seluas 3,66 juta Ha dengan rincian Kapuas Hulu yang meliputi penggunaan Muller seluas 1,86 juta Ha, Melawi yang meliputi pegunungan Schwaner seluas 1,67 juta Ha, dan Ketungau seluas 117 ribu Ha.

"Di Kapuas Hulu 91% masih bertutupan hutan, di Melawi 69% masih bertutupan hutan, dan Ketungau 60% masih bertutupan hutan. Jika dilihat dari data Kapuas Hulu tentu lebih baik dibanding kondisi Melawi dan Ketungau," ujar Ade  M.Iswadi.

Jika intensitas hujan tinggi dan berkepanjangan Melawi dan Ketungau paling menjadi penyumbang air hujan ke sungai sehingga meluap dengan cepat dan itu akibat DTA berkurang. Kawasan di daerah Melawi dan Ketungau akan terdampak dan Sintang selalu menjadi penampungnya.

"Untuk  Kapuas Hulu, karena memiliki DTA baik mestinya saat intensitas hujan tinggi dan lama air tidak banyak terbuang ke sungai, namun faktanya Kapuas Hulu juga mengalami sering banjir yang cukup parah," jelasnya.

Menurut Ade M.Iswadi , Fenomen La nina menyebabkan curah hujan tinggi berpotensi besar menyebabkan banjir di daerah Sintang.

Kondisi banjir di DAS Kapuas dan Sub DAS diperparah lagi karena bersamaan dengan naiknya permukaan air laut. Sehingga air laut masuk ke sungai-sungai mendesak air sungai balik ke hulu.

Jika melihat kondisi dari pengalaman lalu dan kondisi beberapa tahun belakangan serta kondisi terkini, menurut Iswadi perlu ada kajian dan adanya solusi adaptasi dan mitigasi karena Sintang khususnya akan tetap menghadapi situasi banjir.

Pengendalian data dan informasi terkait bencana banjir secara komprehensif baik tempat, kondisi wilayah, jumlah KK/jiwa/anak-anak/rumah dan lainnya yang relevan perlu dibuatkan sistem yang secara pakem. Hak itu akan menjadi baseline untuk upaya solusi adaptasi dan mitigasi terkait bencana banjir. Early warning system juga harus menjadi sebuah menu yang kapan saja diperlukan selalu tersedia secara update.

"Soal adanya perkebunan sawit dan PETI. Dengan kondisi yang ada, keduanya bukan faktor utama sebenarnya tapi bisa kita katakan turut memperparah kondisi saja. Sebagai contoh lahan sawit yang terlalu luas merusak chatchmen area (daerah tangkapan air), sedangkan PETI bisa menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai akibat banyaknya sedimen dan lumpur yang mengendap di dasar sungai dan tentunya juga akan menyebabkan berkurangnya daya tampung sungai," jelas Ade M.Iswadi .

Jika menilik kembali pada kejadian banjir besar tahun 1963, dan hanya sawit dan Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) dikatakan penyebab utama saat itu kebun sawit dan PETI belum ada. Menurutnya, perkebunan sawit dan PETI tetap ada andil dalam kerusakan DAS Kapuas dan Sub DAS.

Perkebunan sawit dan PETI berperan mempercepat proses terjadinya banjir jika hujan ekstrim terjadi dalam waktu yang lama. Mengingat perkebunan sawit akan mempengaruhi kurangnya daya serap tanah terhadap limpahan air hujan, sedangkan PETI menyebabkan berkurangnya daya tampung sungai.

"Solusi lain untuk peninggian jalan seperti yang baru dimulai sebelum banjir terjadi itu juga baik namun tidak semuanya dapat dilakukan, upaya mitigasi secara serius dan terencana perlu dilakukan agar resiko yang terjadi akan berkurang," tambahnya. (Ram)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar