Serangan ASF, Peternak Babi di Kalbar Terancam Gulung Tikar

KBRN, Sintang: Peternak Babi di Sintang dan Kalbar secara umum terancam gulung tikar menyusul merebaknya kasus virus Demam Babi Afrika atau ASF (African Swine Fever).

Sampai saat ini hampir 200 ekor babi mati secara perlahan di kandang-kandang peternak babi di Sintang akibat virus tersebut dan mengancam sekitar 67 ribu ekor babi milik peternak di kabupaten Sintang.

Hal ini terungkap dalam Pertemuan sosialisasi pengendalian dan penanggulangan penyakit Demam Babi Afrika di Balai Praja kantor Bupati Sintang, kamis (21/10/2021).

Salah satu Peternak Babi di Sintang Simbolon mengatakan akibat isu ASF penjualan ternak di Sintang anjok lebih dari 50 persen dam sebulan terakhir.

“Pemasaranya berdampak cukup besar, saya punya langganan tiap minggu sekarang sudah 3 minggu baru keluar karena tidak laku, pengeluaran saya untuk pakan perminggu saja Rp 80 juta belum gaji karyawan, ini yang membuat kami rugi, makanya ketika ada kebijakan larangan mengeluarkan babi keluar daerah merugikan kami, perlu ada solusi lah,” ungkap Simbolon, kamis (21/10/2021).

Menanggapi keluhan Peternak dan pedagang babi di Sintang anggota komisi IV DPR RI Yessy Melania menyatakan keputusan melarang penjualan babi oleh peternak keluar daerah akibat ASF perlu dipertimbangkan secara matang mengingat akan berdampak panjang.

“ Kalau memang bisa ditangguhkan dulu rencana penghentian penjualan daging babi oleh peternak, perlu diskusi matang dengan pertimbangan ekonomi dan perlunya penerapan legalitas kesehatan hewan yang keluar dari Sintang,” ungkapnya.

Menurut Yessy masuknya tenak babi bukan hanya dari Sintang, di kabupaten Melawi saja banyak babi yang datang dari Kalimantan tengah yang berjualan menggunakan motor.

“ Inikan sudah lintas provinsi, kendalinya ada di dinas terkait seperti dinas pertanian, sehingga keputusan harus dapat dilakukan berimbang untuk peternak, pembeli dan pedagang, jangan sampai kondisi ini melemahkan ekonomi masyarakat yang sudah sulit akibat covid-19 maka pertimbangan perlu kajian,” katanya.

Selain itu komitment peternak dan penjual juga harus benar benar dilaksanakan bila aturan tata niaga harus mengantongi legalitas kesehatan maka peternak dan penjual tidak boleh mengabaikanya.

“ Sanksinya, bila diberikan kelonggaran tapi wabahnya kian melebar maka tidak perlu ragu ditutup saja, kita blok, namun bila angkanya menurun maka bisa dilanjutkan dan perlu juga diberikan stimulus,” tegasnya.

Sintang berada di peringkat 4 se kalbar produksi ternak babi, sementara Kalbar berada diperingkat ke 3 produksi babi secara nasional. Merebaknya kasus ASF ini dikhawatirkan akan memukul perekonomian bidang peternakan di Kalimantan Barat.

Pertemuan sosialisasi pengendalian dan penanggulangan penyakit Demam Babi Afrika di Balai Praja kantor Bupati Sintang  dihadiri langung oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian pertanian Dr. Ir Nasurllah, Msc, Komisi IV DPR RI Yessi Melania, SE dan Jajaran  unit pelaksana teknis kementerian Pertanian.

Dalam sosialisasi tersebut juga Kementerian Pertanian menyerahkan Bantauan Serum konvalesen untuk penaggulangan ASF kepada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kalimantan Barat.// (fik)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00