Solidaridad Gandeng Media Lokal Melalui Program POV

KBRN, Sintang: Program Coordinator West Kalimantan Solidaridad, Billy M Hasbi mengatakan Solidaridad  mulai berkiprah di kabupaten yakni Sintang, Melawi, Sekadau dan Sanggau sejak tahun 2012 dengan beberapa program kerja.

Saat melakukan diskusi dengan sejumlah media, senin (18/10/2021) Billy mengatakan, solidaridad berfokus pada lima area inovasi seperti perubahan iklim, solusi digital, inklusi gender, investasi berdampak dan investasi bentang darat.

“ Saat ini kami melakukan pendampingan bersama petani sawit mandiri melalui penerapan praktik pertanian terbaik meliputi pengelolaan keuangan, persiapan dan proses sertifikasi ISPO dan RSPO, Pengorganisasian diri kelestarian ekosistem, Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan, Perbaikan Penghidupan serta penguatan lembagaan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama Sr.Commonication  Officer and gender Focal point Indonesia, Suksma Ratri mengatakan, saat ini pihaknya akan menggandeng media media lokal  untuk menyuarakan program solidaridad agar dipahami oleh para saktake holder terutama para pendampingan petani sawit di Sintang.

“Power Of Voice–POV  merupakan program kita bersama media dalam  mendorong program Sertifikasi ISPO dan RSPO misalnya, perlu disuarakan secara bersama sama untuk memastikan produksi sawit berkelanjutan, khususnya pada petani mandiri, disini peran media penting  dalam menyampaikan pemahamanan baik melalui atrikel maupun talk show,” ungkapnya.

Pengajuan kedua jenis sertifikasi ISPO dan RSPO melewati berbagai proses yang memastikan budidaya sawit dilakukan secara berkelanjutan dari sisi sosial dan lingkungan. Pada sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada petani, alur pengajuannya terdiri atas pemenuhan standar, pengajuan audit, penilaian auditor dan review, penerbitan sertifikat jika lolos penilaian, dan pengawasan setiap tahun selama lima tahun. Sementara syarat sertifikasi petani ISPO yaitu transparasi dan penerapan praktik perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup yang baik, dan penerapan usaha berkelanjutan.

“Dokumen persyaratan sertifikasi RSPO terbilang lebih mudah dibanding ISPO sebab hanya membutuhkan hak legal dan adat untuk memanfaatkan lahan. Sementara syarat sertifikasi bagi petani yakni perkebunan sawit harus berada di luar kawasan lindung, tidak menggunakan api dalam menyiapkan penanaman kembali, serta tidak memperkerjakan anak di bawah 18 tahun,” katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00