Yosepha : Akan Bahas Usulan Wajibkan ASN Gunakan Batik Berbahan Tenun Ikat Sintang

KBRN,Sintang : Pelaksana Harian Bupati Sintang, Dra Yosepha Hasnah,M.Si  akan membahas bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengenai saran Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Agus Chusaini untuk mewajibkan ASN menggunakan kain batik menggunakan bahan dasar tenun ikat guna membantu meningkatkan pemasaran.

"Ya, nanti akan kami bahas tentunya bersama OPD terkait, mengenai saran dari BI Kalbar, ya," kata Yosepha, kamis (14/10/2021).

Setelah melalui pembahasan, Yosepha akan melihat kesiapan tenun ikat, baik jumlah produksi maupun bahan bakunya.

"Kemudian kita juga melihat kesiapan tenun, apakah nanti memang memungkinkan kalau semua ASN akan dibuatkan baju tenun ikat," jelasnya.

Dijelaskan Yosepha ,jika  memang nanti pada akhirnya tenun sudah cukup untuk semua ASN, nanti kita akan menindaklanjutinya ke semua kepala OPD.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Agus Chusaini melihat komitmen Pemkab Sintang sudah sangat baik dalam memperhatikan pengembangan tenun ikat yang dibuktikan dengan produksi dan kegiatan tenun terus meningkat.

Akan tetapi, Agus menilai selain komitmen juga dibutuhkan campur tangan Pemkab Sintang dalam membantu meningkatkan pemasaran kain tenun ikat.

"Kami juga minta ada campur tangan Pemkab Sintang dalam membantu meningkatkan pemasaran kain tenun ini. Misalnya mewajibkan ASN Pemkab Sintang untuk menggunakan kainbatik yang menggunakan bahan dasar tenun ikat," kata Agus.

Agus menilai, dengan meningkatnya permintaan, maka para pengrajin akan lebih semangat dan meningkatkan roda perekonomian sekaligus melestarikan warisan budaya.

 

"Kita perlu belajar di Jawa soal penghargaan atas para pengrajin. Di sana dalam seminggu tiga kali ASN memakai pakaian batik khas daerah yakni selasa, kamis dan jumat. Dulu pengrajin batik hampir punah, tetapi setelah ada kebijakan pemerintahnya, akhirnya kain batik di Jawa sangat bergairah kembali. Sama dengan pakaian lurik yang dulu dilupakan sekarang naik daun lagi. Mungkin kebijakan ini bisa dilakukan oleh Pemkab Sintang sehingga kalau berhasil, kabupaten lain bisa mengikuti," kata Agus Chusaini . (Ram)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00