Empat Desa di Wilayah Kecamatan Sukasada Rawan Bencana

KBRN, Singaraja : Desa Wanagiri, Pancasari, Gitgit dan Desa Ambengan tergolong ‘zona merah’ wilayah rawan bencana. Terkait hal tersebut, RRI Singaraja kembali menyelenggarakan dialog interaktif tentang kebencanaan, mengangkat topik “Mengenal Karakteristik Wilayah dalam Mensiasati Bencana”.

Dialog interaktif dilaksanakan Kamis (24/10/2019) di Spice Paradise, Desa Gitgit, Sukasada, menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kodim 1609/Buleleng, Polres Buleleng, dan Badan SAR Nasional, didukung Camat Sukasada, Kepala Desa Gitgit, tokoh masyarakat dan relawan bencana serta tokoh agama Desa Wanagiri, Ambengan, Gitgit dan Desa Pancasari.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Ida Bagus Suadnyana, mengatakan Buleleng memiliki karakteristik wilayah yang rentan bencana, tentu diperlukan  kepedulian masyarakat untuk melakukan deteksi dini terhadap situasi lingkungan. Sehingga bila terjadi bencana, segera dapat melakukan tindakan atau menghindar dari titik lokasi bencana, guna memperkecil resiko akibat dari bencana dimaksud. Kompleksnya jenis bencana yang berpeluang dan pernah terjadi di Bali Utara, sehingga Buleleng dijuluki daerah ‘mall bencana’.

“Kita akan banyak juga memitigasi daerah-daerah yang rawan longsor, harapan kami, tentu masyarakat ikut mendukung, karena tentu yang mengetahui kondisi real tipografi di daerah Gitgit, Wanagiri, Ambengan, Pancasari adalah mereka yang setiap hari bergelut dengan tanah. Mudah-mudahan dengan lebih awal mengetahui, memitigasi, maka bisa kita cegah," ucapnya.

Berbicara tentang bencana, Dandim 1609/Buleleng, Letkol Infanteri Verdy De Irawan perintahkan bawahannya terutama Babinsa agar mampu melaksanakan tiga tindakan di tempat tugasnya masing-masing. Tiga tindakan yang harus diwujudkan untuk meminimalisasi jatuhnya korban akibat bencana meliputi deteksi dini, cegah dini dan lapor cepat. Babinsa juga sekaligus dapat menerapkan SSK3W, yakni “Siap, Siaga, Kuasai serta Waspada, Waspada dan Waspada.

“Sosialisasi yang saya sampaikan ke anggota, deteksi dini dan lapor cepat. Deteksi dini, tau kira-kira dimana akan terjadi bencana dan lapor cepat yang paling penting, karena lapor cepat ini bukan hal masalah lapor ke atasan tapi lapor ke yang mempunyai peran, seperti Kelian Adat, kami yang ada disini, sehingga bisa termonitor semua. Jika sudah termonitor, kami pasti akan memberikan bantuan yang sangat cepat,” tegasnya.

Desa Wanagiri salah satu desa yang termasuk zona merah kebencanaan, memiliki cara tersendiri untuk  melakukan tindakan ketika terjadi bencana. Dewa Made Merta, Klian Adat Desa Wanagiri mengatakan, bencana yang sering terjadi di desa setempat adalah tanah longsor dan angin kencang. Sepertinya setiap tahun ada saja bencana terjadi di Desa Wanagiri, oleh sebab itu Klian Desa Adat Dewa Made Merta selalu mengingatkan warganya agar tetap waspada bila ada tanda-tanda akan terjadi bencana.

“Perlu diketahui, karena kawasan Wanagiri, sepanjang kurang lebih 5 kilometer, ada di perbatasan hutan. Seperti tempo hari, ada pohon tumbang, dan kesiapan kami setiap ada informasi dari masyarakat, kami selaku Kelian Adat, kami langsung kontak anggota relawannya untuk langsung terjun ke lapangan,” ungkapnya.

Bencana, tidak dapat diprediksi memang menjadi rahasia Tuhan, namun manusia dapat melakukan deteksi dini, wilayah dan cuaca yang sedang terjadi agar dapat meminimalisir jatuhnya korban akibat bencana dimaksud.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00