Angin Puting Beliung Mengamuk di Penajam Paser Utara, Satu Warga Terluka

Anggota TNI melaksanakan kaji cepat di rumah warga terdampak angin puting beliung yang terjadi di Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (28/6). FOTO: BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara

KBRN, Jakarta: Fenomena angin puting beliung terjadi di Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (28/6/2022). Peristiwa itu menyebabkan seorang warga terluka karena terkena puing bangunan yang rusak diterjang angin.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat ada 2 rumah warga mengalami rusak berat dan 8 rumah rusak ringan. Berdasarkan laporan visual, beberapa rumah mengalami kerusakan di bagian atap. Atas peristiwa itu, sedikitnya ada 10 KK/40 jiwa yang terdampak angin puting beliung tersebut.

Anggota TNI melaksanakan kaji cepat di rumah warga terdampak angin puting beliung yang terjadi di Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (28/6). FOTO: BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara

Sebagai upaya percepatan penanganan bencana angin puting beliung, pihak BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara bersama unsur TNI, Polri, instansi terkait dan pemerintah desa setempat telah melakukan assesmen di lapangan dan melakukan pembersihan puing rumah terdampak.

Potensi hujan sedang hingga lebat dan dapat disertai petir diprakirakan masih dapat terjadi di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara hingga Jumat (1/7) mendatang, sebagaimana menurut informasi prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Menyikapi hal itu, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kepada seluruh pemangku kebijakan di daerah bersama masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Upaya mitigasi seperti pemangkasan ranting, batang dan cabang pohon, pemantauan dan penertiban baliho atau papan reklame, penguatan struktur bangunan rumah dan gedung, penataan kembali kabel listrik dan jaringan komunikasi serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara berkala.

Di samping itu, untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir dan tanah longsor, maka upaya mitigasi seperti normalisasi sungai, susur sungai, pembersihan sungai dari sumbatan sampah, sosialisasi kepada masyarakat dan memantau perkembangan cuaca agar dilakukan secara rutin.

Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng tebing dan bantaran sungai agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi lebih dari satu jam, maka diimbau agar evakuasi sementara secara mandiri ke lokasi yang lebih aman.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar