Jumlah Penderita Demam Berdarah di Buleleng Tertinggi di Bali

KBRN, Singaraja : Selama kurun waktu Januari hingga minggu kedua di bulan Pebruari 2019, Kabupaten Buleleng menempati urutan pertama untuk kasus demam berdarah dalam wilayah Provinsi Bali. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, telah terjadi 127 kasus penyakit musiman demam berdarah.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr Gede Suaryawan, Rabu (13/2/2019) mengatakan, jumlah 127 kasus demam berdarah selama Januari hingga 10 Pebruari 2019 dinilai cukup banyak yang mana hampir mendekati jumlah kasus demam berdarah dalam kurun waktu setahun di tahun 2018 yakni 129 kasus. Kejadian peningkatan DB seperti saat ini sama dengan kejadian di tingkat nasional yakni 13.000 kasus dalam satu setengah bulan ini, dibanding dengan satu tahun kemarin hanya 11.000 kasus.

“Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus demam berdarah dan nyamuk sebagai vektornya yang memindahkan dari satu orang ke orang lain, kemudian berkembang biak melalui telurnya. Khusus untuk wilayah Kabupaten Buleleng, penderita demam berdarah terbanyak masih terfokus di Kecamatan Buleleng dan Sukasada,” ungkap Suaryawan.

“Pencegahan efektif untuk pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti melalui pola 3 M dengan gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) meliputi menguras tempat-tempat genangan air, menutup tempat air dan mengubur barang bekas, seperti kaleng cat, dan sejenisnya yang cendrung menampung air dan mestinya dibersihkan seminggu sekali,” imbuhnya.

Disamping itu, kata Suaryawan, dinas kesehatan telah melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan pogging atau pengasapan terhadap tempat-tempat yang dinilai memiliki resiko tinggi menyebarnya demam berdarah. Kegiatan pogging biasanya dilakukan pagi hari berkoordinasi dengan lurah maupun kepala desa setempat.

Gede Suaryawan menambahkan untuk mencegah perkembangan nyamuk aedes aegypti sebagai penyebab penyakit demam berdarah, juga diperlukan peran serta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama dengan menggalakkan budaya gotong-rotong dan masing-masing rumah tangga disarankan membentuk tenaga jumantik (juru pemantau jentik) mandiri yang bertugas memantau keadaan rumah sendiri, disamping tenaga jumantik yang diharapkan dibentuk oleh masing masing lurah maupun kepala desa di wilayah setempat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00